Mendengarkan dan Berbicara, Apa perlu Belajar ?

           Mendengarkan dan Berbicara, Apa Perlu Belajar ?


Mendengarkan dengan baik orang lain yang sedang berbicara memang tidak mudah, karena tidak semua orang memahami ini. Kadang ada kecenderungan seseorang ingin berebut berbicara, lalu siapa yang mendengarkannya. Oleh karena itu dengan berbagai pengalaman, judul ini sangat menarik untuk diangkat. Mendengarkan perlu belajar, atau apa perlunya belajar mendengarkan orang lain berbicara ? Mendengarkan dengan penuh perhatian disebut dengan menyimak. Menyimak menurut Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan dalam bukunya Menyimak sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa adalah kegiatan mendengarkan lambang- lambang  lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi serta memahami makna komunikasi, yang disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. Singkatnya menyimak adalah mendengarkan dengan penuh perhatian sehingga pendengar memperoleh informasi dan memahami isi suatu materi yang disampaikan. Mendengarkan berbeda dengan mendengar. 

Faktor yang memengaruhi keefektifan serta kualitas menyimak, secara garis besar karena:
1. Faktor fisik 
2. Faktor psikologis
3. Faktor pengalaman.


Yang dimaksud faktor fisik adalah pendengar atau penyimak yang karena kondisi  fisiknya sehingga tidak bisa menyimak dengan baik, bisa karena kecapaian, gangguan kesehatan, lingkungan tidak nyaman karena lembab, bising, terlalu dingin dan yang lain. Faktor psikologis antara lain karena penyimak berprasangka atau tidak simpatik kepada pembicara, sifat ego yang berlebihan, kurang  pengetahuan, atau mudah bosan. Sedang faktor pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan juga bisa berpengaruh dalam kegiatan mendengarkan, atau bisa karena ada kata asing yang tidak diketahui pendengar, dan bahasanya tidak komunikatif, bisa berpengaruh dalam kegiatan menyimak atau mendengarkan.


Faktor tersebut di atas dapat memengaruhi pada pembicaraan searah, yang sifatnya monolog sering kurang berhasil. Misalnya pada pidato, kata sambutan, ceramah keagamaan, acara reuni, rapat. Banyak terjadi dalam suatu acara pertemuan para pendengar, sering berbicara sendiri asyik dengan tema masing-masing, sehingga terkesan pembicara diabaikan. Karena itu mendengarkan orang lain berbicara itu perlu belajar, belajar mendengarkan dengan penuh perhatian. Para pembicara juga perlu koreksi diri dan belajar sehingga kualitas bicaranya akan semakin baik. Kita semua harus mau belajar karena kita bisa menjadi pembicara dan juga pendengar.

Bagaimana supaya orang sukses dalam berbicara ?

Eugane Enrich dan Gene R Hawes dalam bukunya Speak for Succes menjelaskan, tentang kunci rahasia dalam menguasai teknik berbicara yaitu :

1. Kontak Mata
    Selain modal suara dalam berbicara, mata juga penting dalam kesuksesan berbicara. Mata 
    pembicara memandang dan menatap mata 
    para pendengar, artinya kita berhasil kontak mata dengan para pendengar, atau kita berbicara 
    lewat mata. 
   
2. Berbicaralah dengan suara agak keras agar terdengar
    Kualitas suara kita tidak sama, ada yang diberi talenta suara yang baik, enak didengar, wah 
    pokoknya mendengar suaranya bisa langsung simpatik, tapi ada yang suaranya biasa-biasa saja,
    yaitu anugerah Tuhan maka harus kita terima. Namun kualitas suara saat ini bisa dibantu dengan 
    perangkat elektronik atau sound sistem kualitas yang baik dengan sistem pengaturan suara. 
    Barangkali perlu bagi pembicara dengan pengaturan artikulasi suara, tekanan dan nada, sehingga 
    pendengar menjadi terjaga dan tidak ngantuk.

3. Jangan terlalu cepat
    Pembicara yang terlalu cepat bisa menggangu pendengar, karena itu diperlukan seni berbicara, 
    kapan harus cepat, lemah, lembut dan keras. Memang ada tipe orang yang bicaranya cepat, dan 
    kadang sulit ditangkap. Kecepatan terbaik dalam berbicara berkisar 130-165 kata permenit.

4. Ucapkan setiap kata dengan jelas
    Dalam memilih diksi atau pilihan kata, harus hati-hati, supaya tepat maknanya dan diucapkan
    dengan jelas supaya pendengar tidak salah menafsirkan. Penting juga cara melafalkannya harus
    jelas, ucapkan kata dengan jelas. Karena ucapan kata di suatu daerah bisa maknanya berbeda di
    tempat lain. 

5. Hilangkan kebiasaan latah
    Latah, pasti pembaca tahu maksudnya, berbicara itu suatu style, gaya pribadi yang tidak bisa 
    meniru gaya orang lain berbicara, atau mengambila kata-kata milik orang lain. Kita harus mampu
    menjadi diri sendiri. Hati-hatilah dengan kebiasaan yang tidak baik, karena itu diperlukan introspeksi
    diri atau bertanya kepada teman, tentang bagaimana sambutan saya tadi.
    Ada pembicara yang tidak sadar selalu menggunakan kata tertentu misalnya eee....., apa itu......, 
    manakala......memangnya.....kan gitu.. iya kan .....dan yang lain secara berulang-ulang dan
    ternyata ada yang memperhatikannya dengan menghitung, misalnya kata manakala diucapkan 
    sampai 27 kali, ucapan eee sampai 32 kali, kata nggih ( Bahasa Jawa ) artinya penekanan ya, dalam
   durasi waktu bicara 25 menit diucapkan 76 kali, luar biasa kan dengan tidak disadari, sayangnya
    tidak direkam dst.

Kesimpulan :

1. Bagi Pembicara atau yang sering menjadi pembicara perlu koreksi diri dengan menanyakan pada 
    orang dekatnya untuk memberi kritik tentang sambutannya atau pembicaraannya. Dan bisa juga 
    kita sendiri perlu belajar berbicara yang baik. Kita tahu ada orang yang alergi dengan kritikan.
2. Bagi para pendengar dan kita semua perlu belajar menjadi pendengar yang baik,  tidak asyik 
    sendiri, jangan memulai bicara sendiri, biasanya bila sudah berkumpul bersama teman, walaupun 
    sudah sama-sama dewasa menjadi seperti anak kecil lagi. Jadilah pendengar yang baik, dengan
    posisi diam menyimak yang disampaikan pembicara dengan kontak mata.

Tulisan ini mengingatkan saya untuk selalu belajar.

Semoga bermanfaat !
Kata Kunci : mendengarkan, berbicara





    




Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :