Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus

             Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus                                                


Pada Yohanes 9 : 2 di sana Murid-murid bertanya kepada Guru: “ Guru atau Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan  buta ?” . Guru menjawab :”Bukan dia dan bukan orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia “. Setiap keluarga pasti mengharapkan para putra-putrinya lahir sempurna, tetapi Tuhan bisa berkendak lain seperti tersebut di atas. Di lingkungan Jawa ( Pulau Jawa, Indonesia ) dahulu bila ibu yang melahirkan pasti ditanyakan jarinya lengkap atau tidak. Maksudnya adalah putra yang dilahirkan sempurna atau tidak. Di dunia ini tidak ada dua orang yang sama, dan sempurna karena manusia bersifat unik.

Anak berkebutuhan khusus juga unik karena itu tidak harus dikasihani tetapi diberi kesempatan. Sekecil apapun anak berkebutuhan khusus pasti memiliki potensi yang bisa dikembangkan. Karena pada dasarnya setiap anak memiliki keunikan tersendiri, terbukti anak berkebutuhan khusus banyak yang memiliki prestasi yang luar biasa dibanding dengan saudara yang lain.
Karna itu dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 5 ayat 2 di sebutkan bahwa “ Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual dan/ atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus” . Pendidikan khusus maksudnya adalah peserta didik karena memiliki keterbatasan maka dibutuhkan layanan secara khusus sehingga dikenal dengan ABK ( Anak Berkebutuhan Khusus ). Untuk itu kita wajib memberi kesempatan kepada mereka untuk memperoleh kesempatan belajar. ABK harus diberi kesempatan seluas-luasnya agar dapat mandiri sesuai dengan kondisi masing-masing.
Anak berkebutuhan khusus biasanya bersekolah di Sekolah Luar Biasa ( SLB ) sesuai dengan kekhususannya masing-masing, atau di sekolah inklusi. Sebelum anak masuk di SLB atau Sekolah Inklusi mestinya diadakan pemeriksaan oleh Tim yang terdiri dari Psikolog, Dokter Anak, Dokter Rehab Medik dan Paedagog. Dengan pemeriksaan awal ini dapat diketahui tentang hambatan pada ABK, sehingga bisa dilakukan tindak lanjut. Tindak lanjut ini agar dapat melakukan pelayanan yang tepat sesuai dengan kebutuhan awal melalui pelayanan terapi. Hampir semua ABK membutuhkan pelayanan terapi, ini diharapkan agar ABK dapat mempersiapkan untuk memasuki dunia sekolah. Terapi bisa dilakukan di rumah sakit, atau di tempat pelayanan terapi.

Pendidikan Inklusi
Menurut Sapon-Shevin ( O’Neil 1995) menyatakan bahwa Pendidikan Inklusi sebagai sistem layanan pendidikan yang mempersyaratkan agar ABK dilayani di sekolah-sekolah terdekat, di kelas reguler bersama dengan teman seusianya.
Sekolah Inklusi yang kita kenal saat ini adalah yang sesuai pendapat Sapon-Shevin, adalah ABK masuk di sekolah reguler di sekitar kita, akan tetapi jumlah ABK dibatasi setiap rombel terdiri dari sekitar 20 anak termasuk yang  ABK hanya sekitar 2-3 anak. Bukan 1 rombongan belajar murid ABK nya lebih dari 10 anak, Gurunya yang tidak mampu karena tiap ABK harus ada guru pendamping. Harapan ke depan adalah bahwa melalui Pendidikan Inklusi diharapkan sekolah reguler dapat melayani semua anak, termasuk yang berkebutuhan khusus. Hanya yang menjadi permasalahan adalah bahwa setiap ABK membutuhkan pelayanan secara khusus, akan tetapi Guru yang mendapat pendidikan secara khusus untuk melayani ABK jumlahnya sangat terbatas dan bahkan tidak ada. Idealnya memang khusus Guru yang menangani ABK, harus dipersiapkan oleh pemerintah dengan memberikan bantuan beasiswa bagi calon Guru ABK atau SLB.
Tiap ABK memerlukan bentuk pelayanan  yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka. Bagi tunanetra misalnya mereka memerlukan model teks yang dimodifikasi menjadi bacaan dengan huruf Braille.

Penyebab terjadinya ABK
1. Pranatal      : kehamilan yang mengalami pendarahan, kurang gizi atau minum obat-obatan.
2. Natal          : persalinan yang tidak spontan, lahir prematur atau berat badan rendah.
3. Postnatal    : diare semasa bayi, kejang, atau tumor otak.


Jenis-jenis Ketunaan   


1. Tunanetra

Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan penglihatan, dapat diklasifikasikan dalam  2 golongan, yaitu buta total ( blind ) dan low vision.
Karena keterbatasan indra penglihatan, maka proses pembelajaran menekankan pada alat indra lain yaitu peraba dan pendengaran. Media pembelajaran harus bersifat taktual dan bersuara.
2. Tuna Rungu
Tuna rungu adalah individu yang mengalami hambatan dalam pendengaran, baik permanen maupun tidak permanen. Karena mengalami hambatan dalam pendengaran maka ia juga mengalami hambatan dalam berbicara, sehingga disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional, sedangkan isyarat bahasa berbeda setiap negara.
3. Tuna Grahita
Tunagrahita adalah individu yang memiliki intelgensi yang berada di bawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi perilaku yang muncul dalam masa perkembangan.
4. Tuna Daksa
Tuna daksa adalah individu yang memiliki gangguan  gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, amputasi, polio atau lumpuh.
5. Tuna Laras
Tuna Laras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. Biasanya menunjukkan perilaku yang menyimpang yang tidak sesuai dengan  norma atau aturan yang berlaku di sekitarnya. Disebabkan oleh pengaruh dari lingkungan.
6. Kesulitan Belajar
Individu yang memiliki gangguan pada satu atau lebih kemampuan dasar psikologis yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa, bicara dan menulis yang dapat memengaruhi kemampuan berpikir, membaca, berhitung, berbicara yang disebabkan gangguan persepsi, disfungsi minimal otak, mengalami gangguan motorik persepsi motorik, gangguan koordinasi gerak.
7. Anak Cerdas Istimewa
Yaitu anak berbakat yang memiliki kecerdasan dan kemampuan  luar biasa, memiliki kecerdasan, kreativitas dan tanggungjawab pada tugas di atas rata-rata anak normal seusianya, sehingga membutuhkan pelayanan khusus.
8. Autisme
Yaitu suatu kondisi seorang sejak lahir atau masa balita yang membuat dirinya tidak bisa membentuk hubungan sosial atau komunikasi normal. Akibatnya terisolasi dari manusia. 
Ciri-cirinya : Suka menirukan suara atau instruksi, bicara sendiri dengan kata-kata yang aneh, menghindari kontak mata, senang membariskan benda-benda, senang tiduran di lantai, senang mengibas-ibaskan tangan, suka merusak, sering memutar atau menggelengkan kepala.
9. Hiperaktif
Gangguan tingkah laku yang tidak normal disebabkan disfungsi neurologia dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian. Ciri-cirinya : menolak duduk di kursi, berputar sebelum duduk, mondar-mandir, memegang benda sekitar, banyak bicara, membuat-buat alasan, tidak teratur mengerjakan tugas, membolak-balikkan kertas, tidak konsentrasi.
10. ADHD ( Attention Deficit Hyperactivity Disorder )
Gangguan perkembangan dalam peningkatan  aktivitas motorik hingga menyebabkan aktivitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan. Ditandai dengan kelihatan gelisah,tidak bisa diam, tidak bisa duduk dengan tenang.
11. Indigo
Manusia yang sejak lahir mempunyai kelebihan khusus yang tidak dimiliki orang lain pada umumnya.


Macam Indigo :
a. Indigo Humanis, akan bekerja dengan orang banyak, adalah dokter, pengacara, guru, ahli

    pemasaran, suka bergaul secara luas.
b. Indigo Artis, sangat sensitif, perawakan kecil berminat pada seni.
c. Indigo Interdimensional, pada usia 2 tahun sudah pandai bicara, dan sudah bisa bilang “ Aku sudah

    tahu “.
d. Indigo Konseptual, banyak menggarap proyek dibanding orang lain, mereka arsitek, ahli mesin, 

    perancang, astronot di masa mendatang.


Sumber bahan : Informasi tentang Anak Berkebutuhan Khusus
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :