Ujian Nasional Kini Tidak Menakutkan

                        Ujian Nasional Kini Tidak Menakutkan
                                       


Selama ini Ujian Sekolah apapun namanya baik Ebtanas, Unas maupun UN menjadi salah satu penentu kelulusan siswa. Sehingga para peserta didik merasa takut atau ujian menjadi menakutkan yang berakibat siswa menjadi  stres. Banyak usaha yang dilakukan agar ujiannya lulus, ada yang dengan berpuasa Senin- Kamis, pergi ke dukun, dan usaha ritual yang lain, yang pasti siswa harus belajar dengan tekun agar lulus. Banyak orangtua yang memaksakan putranya untuk mengikuti berbagai les atau try out, anak sangat capai tetapi orang tua tidak memahaminya. Usaha itu karena mereka ketakutan bila putra-putrinya tidak lulus Ujian. Karena itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berupaya menjadikan agar Ujian Nasional tidak dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan bagi siswa. Lembaga Pendidikan juga ketakutan bila siswanya banyak yang tidak lulus, sehingga dengan berbagai cara dilakukan agar siswanya bisa lulus 100 %. Ada yang melakukan les sore hari, masuk lebih awal untuk latihan soal-soal, bahkan menjelang pelaksanaan ujian siswanya dikarantina untuk tidak pulang. Semuanya adalah usaha agar prestasi kelulusan menjadi baik. Selama ini masyarakat berpendapat  kalau kelulusannya bisa mencapai 100% dianggap sekolah yang baik. Orangtua kadang terlalu memaksakan anaknya harus lulus dengan nilai terbaik, hal itu penting tapi kemampuan anak jangan dipaksakan.


Menteri Anies Baswedan mengatakan bahwa rencana perbaikan UN salah satunya adalah desakralisasi UN yang akan dimulai tahun ini. Katanya : “ Saya menggarisbawahi UN digunakan untuk mengembangkan potensi evaluasi siswa, UN bukan sebagai sesuatu yang sakral atau menakutkan, melainkan sebagai sesuatu yang positif “ Menteri menyampaikan ini pada jumpa pesr tentang Perubahan Kebijakan Ujian Nasional di Kantor Kemendikbud, Jakarta Jumat, 23 Januari 2015.


Kecurangan UN yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya harus berhenti, yang sering memanipulasi bukan siswa tetapi justru ekosistem pendidikan, katanya. Pendidikan bukan lagi tarik-menarik kepentingan politik, tetapi harus dibebaskan dari kepentingan politik. Harapannya adalah bahwa UN dapat membentuk perilaku yang baik pada seluruh aktor pendidikan baik siswa, orangtua, Guru, sekolah maupun dinas pendidikan di daerah maupun di pusat.
Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Kemendikbud, Bapak Nizam mengatakan bahwa UN tahun ini tidak akan melibatkan aparat keamanan dengan persenjataan lengkap dalam proses pendistribusian naskah UN. Pengawasan  Ujian juga tidak lagi melibatkan dosen-dosen perguruan tinggi. UN tahun ini bukan sesuatu yang mengerikan lagi bagi siswa, katanya.
Ujian Nasional sebagai strandar evaluasi tetap akan dipertahankan hal ini berdasarkan amanat UU Sisdiknas, pnggunaan standar ini menjadi alat ukur pembanding dengan standar pendidikan di negara lain.


Ujian Nasional saat ini digunakan pemerintah untuk empat fungsi, yaitu :


1). Pemetaan;
2). Syarat kelulusan;
3). Syarat melanjutkan studi; dan
4). Intervensi kebijakan.

Fungsi pemetaan dan intervensi hanya bisa dilaksanakan bila ada UN, karena itu UN tetap dipertahankan.



Sumber Bahan :http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/berita/3744
 
Semoga !
 
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :