Stop ! Kekerasan di Sekolah

                         
                                           Stop ! Kekerasan di Sekolah
                                                  
Kekerasan merupakan tindakan agresi dan pelanggaran seperti penyiksaan, pemukulan, pemerkosaan, dan lain-lain yang menyebabkan atau dimaksudkan menyebabkan penderitaan atau menyakiti orang lain. Istilah “kekerasan” juga mengandung kecenderungan agresif untuk melakukan perilaku yang merusak. Kerusakan harta benda biasanya dianggap masalah kecil dibanding dengan kekerasan terhadap orang.

Perilaku kekerasan semakin hari semakin nampak, dan sungguh sangat mengganggu dan mengkhawatirkan ketenteraman hidup kita. Jika hal ini dibiarkan, tidak ada upaya sistematik untuk mencegahnya, tidak mustahil kita sebagai bangsa akan menderita banyak kerugian oleh karena kekerasan tersebut. Kita akan menuai akibat buruk dari maraknya perilaku kekerasan di masyarakat baik dilihat dari kacamata nasional maupun masyarakat dunia. Demo anarki dengan tindak kekerasan banyak membawa korban harta, serta fasilitas umum dan membahayakan orang lain bahkan nyawa. Kita tidak mau dicap negara yang tidak aman.


Secara filosofis, fenomena kekerasan merupakan sebuah gejala kemunduran hubungan antarpribadi, antar pribadi tidak lagi bisa duduk bersama untuk memecahkan akar masalah. Hubungan yang ada hanya diwarnai dengan ketertutupan, individualis,  saling mencurigai, dan ketidakpercayaan satu dengan yang lain. Dalam hubungan seperti ini, tidak ada komunikasi, tidak ada dialog, apalagi semangat saling mengasihi. Justru semangat saling mematikan dan membunuh lawan, lebih besar daripada semangat menghidupkan, semangat mencelakakan lebih besar daripada semangat melindungi. 


Memahami tindak kekerasan di Indonesia yang dilakukan satu sama lain atau golongan satu sama lain dari perspektif ini, terlihat betapa masyarakat kita sekarang semakin jauh dari menghargai dialog dan keterbukaan. Permasalahan sosial biasa bisa meluas kepada penganiayaan, pembakaran bahkan pembunuhan. Toko, rumah ibadah yang merupakan simbul kesucian, kendaraan yang tidak ada sangkut pautnya, sering diserang dengan begitu beringasnya. Sering dipertontonkan pada anak-anak kita, dan yang ikut beringas justru terdapat anak, pemuda remaja yang sedang menemukan identitasnya. Pelajar yang sedang menempuh ilmu demi masa depannya, sering terjebak ikut melakukan kekerasan sesama pelajar lain, yang hanya persoalan sepele.


Dinas Pendidikan DKI Jakarta baru-baru ini mengumpulkan seluruh Kepala Sekolah se DKI yang berjumlah 1.400 orang bertempat  di Gedung Olah Raga Ciracas,
Jakarta Timur. Mereka dikumpulkan untuk membahas arah pendidikan di Jakarta, termasuk masih maraknya pungli dan kekerasan siswa di sekolah. Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Arie Budiman mengatakan, para kepala sekolah dituntut untuk membangun iklim pendidikan yang baik kepada seluruh siswa. Tidak ada lagi diskiriminasi bagi seluruh peserta didik.

"Saya mendapatkan pesan singkat dari Gubernur. Yakni agar pendidikan di Jakarta tanpa ada diskriminasi. Walau singkat namun maknanya luas. Makanya seluruh kepala sekolah hari ini kita kumpulkan untuk diberikan pengarahan," ujar Arie di GOR Ciracas, Jumat, 6 Februari yang lalu. Kepala Dinas Pendidikan menjelaskan, berbagai masalah seperti pungutan liar di sekolah dan tindak kekerasan terhadap siswa juga harus segera dieliminir. Sejak Bulan  Januari hingga 6 Februari 2015, ada  107 aduan masyarakat terkait dengan pendidikan sampai ke Dinas Pendidikan. Dari jumlah itu, 52 persennya berupa soal pungli dan 29 persen soal kekerasan yang menimpa siswa. Selebihnya mengenai sarana dan prasarana sekolah yang kurang memadai.



Banyak terjadi kekerasan bahkan terjadi pada siswa Sekolah Dasar, dan terjadinya justru di sekolah, ini yang perlu di tangani secara serius. Para Guru di sekolah juga supaya tidak lengah pada para siswanya, dan berupaya mencegah supaya peristiwa seperti perkelahian anak sekolah dasar bahkan ada yang sampai tewas.
"Kami juga sudah memberi sanksi terhadap 4 kepala sekolah dan 5 guru. Mulai dari pemecatan hingga penurunan pangkat," jelas dia. Kepala Dinas juga menyadari tidak semua laporan masyarakat itu benar, hanya 16 laporan yang ditindaklanjuti, karena ada bukti dan saksi yang kuat. 


Tawuran antar pelajar menjadi pemandangan yang sering kita lihat, bahkan sampai ada yang tewas di tangan teman sendiri. Bukan hanya pelajar bahkan mahasiswa saling menyerang terhadap teman mahasiswa hanya karena hal yang sepele. Bagaimana tindakan kampus bila ada mahasiswa yang bertindak anarkis, dengan menggunakan panah, senjata tajam, dengan semangat untuk membunuh teman sendiri. Mestinya ada tindakan nyata dari kampus atau dari pemerintah melalui Kementerian Pendidikan. Dengan menghentikan bantuan pendidikan ke lembaga atau penghentian bantuan operasional yang lain, barangkali untuk menjadikan efek jera.

Semoga !
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :