Tony Abbott Mengungkit Bantuan Kemanusiaan

                         Tony Abbott Mengungkit Bantuan Kemanusiaan
  

Sesuatu yang tidak lazim bila bantuan kemanusiaan masa lalu diungkit karena warga negaranya yang dijatuhi hukuman mati akan dieksekusi  sebab  pelanggaran narkoba. Bantuan kemanusiaan yang pernah diberikan dalam bencana tsunami tersebut sebagai alat  tukar  untuk membebaskan terpidana mati kasus narkoba Myuran Sukumaran dan Andrew Chan. 

Pepatah yang tepat untuk Perdana Menteri Australia Tony Abbott adalah :  Mulutmu Harimaumu.  Menyusul pernyataannya yang mengungkit-ungkit bantuan kemanusiaan kepada korban tsunami Aceh pada 10 tahun yang lalu, karena itu karir politik Tony Abbott berada di ujung tanduk. Warga Aceh dan penduduk Indonesia pada umumnya sangat kecewa dengan pernyataan tersebut. Sehingga warga Aceh mendesak pemerintah Aceh untuk membayar kembali atau mengembalikan  bantuan yang pernah diberikan Australia, bahkan ada masyarakat yang menggalang dana dengan mengumpulkan koin untuk mengembalikan bantuan tersebut. Anggota DPR RI, juga ikut menyumbang koin untuk Australia sebagai bentuk protes atas pernyataan Perdana Menteri Australia, Tony Abbott. Anggota DPR yang memberikan koin yaitu dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Lukman Edhy, menjadi politikus pertama yang tergerak untuk ikut menyumbang koin untuk Australia.

 Ada wacana yang mengusulkan agar pemerintah Indonesia  berkewajiban untuk menarik seluruh mahasiswa Indonesia yang ada di Australia, bila masalah bantuan kemanusiaan ini disinggung terus. Memang Australia selama ini menjadi tujuan favorit bagi mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi di luar negeri sebagai bentuk kerjasama antar pemerintah, selain sektor pariwisata dan perdagangan.Setelah peristiwa tsunami 26 Desember 2004, pemerintah Australia membuka kesempatan bagi siswa lulusan SMA asal Aceh untuk studi di negeri Kanguru. Banyak memang bantuan kerjasama yang telah diberikan Australia setelah peristiwa tsunami itu, antara lain Gedung Micro Teaching di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Unsyiah, bantuan hibah penelitian dari Aus Aid (Australian Agency for International Development) yang diketuai seorang guru besar dari Universitas Melbourne, Michael Lee.

Mestinya bantuan kemanusiaan itu tidak dijadikan alat untuk membebaskan terpidana mati kasus penyalahgunaan narkoba, yang menghancurkan generasi muda kita. Tiap hari ada 40 -50 pemuda kita yang meninggal karena narkoba. Perdana Menteri Australia harus menghargai kedaulatan hukum negara Indonesia, sungguhpun yang dilakukan adalah bentuk tanggungjawab negara terhadap warganya yang akan dihukum mati. Semua negara pasti melindungi warganya, karena memang harus demikian.

Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Syah Kuala Aceh  Prof. Samsul Rizal mengatakan : “Saya berharap Presiden Jokowi tidak mundur lagi agar wibawa negara jangan diinjak-injak,” Yang pasti hubungan Indonesia dan Australia tidak akan terganggu dengan pernyataan Perdana Menteri Tony Abbott, karena dinilainya sebagai pernyataan pribadi dan tidak mewakili warga negara Australia. Dan yang pasti Perdana Menteri ada waktunya untuk diganti.
Bahkan diberitakan oleh Kabar24, tujuh Menterinya mengancam akan menggulingkan Tony Abbott, menyusul ucapannya yang mengungkit-ungkit bantuan kemanusiaan, demikian hasil jajak pendapat terhadap pemerintahan Abbott dalam rapat itu adalah 61-39. Artinya, Partai Liberal mulai tidak percaya kepada Abbott.


Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :