Calung Banyumasan Sebagai Warisan Budaya

Calung Banyumasan Sebagai Warisan Budaya


                                     

Calung Banyumasan adalah seperangkat musik khas Banyumas yang terbuat dari bambu hitam, di daerah Jawa Tengah, Indonesia disebut bambu wulung (Gigantochloa atroviolacea ). Alat ini mirip gamelan Jawa ritme musik Calung Banyumasan dinamis dan cepat dengan penyanyi yang disebut Pesinden. Calung berasal dari akronim kata : Carang pring wulung, dicacah melung-melung artinya terbuat dari bambu wulung bila dipukul bersuara keras ( Jawa: melung-melung ).

Perangkat ini menggunakan 5 nada yang disebut slendro, yaitu : 1 (ji), 2 (ro), 3 (lu), 5 (ma), lan 6 (nem), dalam musik nasional yaitu nada : 1 ( do), 2 ( re), 3 ( mi ), 5( sol ), 6 ( la ) atau disebut nada pentatonik. Musik ini pada masa lalu berkembang di daerah Banyumas, terutama di daerah pinggiran, di perkampungan, namun saat ini hampir punah, karena generasi muda Banyumas tidak lagi tertarik dengan musik khas Banyumas ini. Karena itu Pemerintah Daerah Banyumas disarankan untuk mengusulkan kesenian yang hampir punah, agar ditetapkan menjadi Warisan Budaya tak Benda oleh Pemerintah Pusat. Dengan cara ini di nilai lebih efektif untuk menyelamatkan aset budaya yang kurang perhatian. 

Pamong Budaya Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Bapak Imam Hamidi, mengatakan bahwa salah satu kesenian di Banyumas yang sudah terdaftar sebagai warisan budaya tak benda adalah calung. Seperti kita ketahui bahwa Warisan Budaya kita ada yang diklaim oleh Malaysia, kita tidak ingin Calung bernasib demikian. Pada tahun 2013 Calung Banyumas telah ditetapkan menjadi salah satu dari 77 Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah terutama kalangan pendidikan, pelaku seni dan masyarakat seni pada umumnya untuk tetap menjaga dan melestarikan seni Calung Banyumasan  ini. Satuan Pendidikan mestinya bisa menjadi sarana dalam melestarikan Warisan Budaya ini dengan memasukkan dalam salah satu ekstrakurikuler yang bisa dilombakan sehingga tetap lestari. Siapa lagi kalau bukan kita warga Banyumas, dan kapan lagi kalau tidak dimulai dari sekarang.

Perhatian Pemerintah Kabupaten dan Para Seniman terhadap Calung sudah terbukti dengan program bantuan berupa seperangkat calung kepada kelompok kesenian. Melalui Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata ( Dinporabudpar ) Kabupaten Banyumas, Imam Hamidi juga memberikan apresiasi dengan langkah Pemda melalui dinas terkait yang menghimbau pada semua hotel, tempat rekreasi, restoran, sekolah dan kantor pelayanan untuk memutar calung selama sepekan dalam rangka Peringatan HUT ke-433 Kabupaten Banyumas. Diharapkan juga Warisan Budaya yang lain agar segera diusulkan menjadi Warisan Budaya, seperti ebeg, lengger, ujungan dan lain-lain. Sementara itu Kepala Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Kab. Banyumas, Ibu Rustin Harwanti mengemukakan bahwa kesenian tradisional yang diusulkan menjadi Warisan Budaya tak Benda membutuhkan kajian menyeluruh yang melibatkan para pelaku seni, akademisi dan dinas terkait.

Ditulis oleh Drs. Yulianto, M.Pd.K.  Praktisi Pendidikan tinggal di Banyumas, Indonesia

Sumber : id.Wikipedia.org dan Suara Merdeka



Kata Kunci :
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :