Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah

                                 Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah

                                                      

Presiden Joko Widodo meminta kepada jajaran Kabinet Kerja agar lebih berhati-hati berkaitan dalam menghadapi perkembangan ekonomi global. Sehingga nilai tukar rupiah terus melemah, karena nilai tukar rupiah terus melemah bahkan terus melemah mendekati level Rp. 14.000 per dollar  Amerika. Ini merupakan level terendah rupiah sejak krisis moneter dialami Indonesia Juli 1998 lalu. Jika tren ini terus berlanjut akan memengaruhi ekonomi Indonesia di tahun 2015. Kita memang harus optimistis agar tahun 2015 pertumbuhan ekonomi terus membaik, tapi harus hati-hati dan waspada, kata Presiden. Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate pada 18 Agustus 2015 rupiah ditutup di level Rp 13.831. Penutupan ini melemah  68 point dari perdagangan pekan lalu yang berada di level Rp 13.763.

Deputy Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai cara untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Bank Indonesia bukan hanya khawatir tapi sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia juga belum dapat memastikan sampai kapan kondisi pelemahan rupiah akan berlanjut. Sebab kondisi global yang juga terus tidak menentu, terus menjadi ancaman utama pada stabilitas sistem keuangan dan nilai tukar.  Di sisi lain salah satu langkah konkrit BI adalah dengan menahan suku bungan acuannnya ( BI rate) di level 7,5% meski cenderung dilematis namun langkah tersebut dianggap sebagai upaya antisipasi untukmenjaga stabilitas nilai tukar.

Ekonom dari Bank Central Asia Bapak David Sumual mengungkapkan bahwa langkah yang diambil Bank Indonesia untuk menahan suku bunga sudah tepat. Sebab di awal 2015 Bank Indonesia sempat menurunkan BI ratenya, dan membuat rupiah melemah di kisaran Rp 12.500, setelah BI rate turun rupiah terus anjlog di kisaran Rp 13.800. Penurunan nilai rupiah tidak semata-mata dipengaruhi oleh sentimen eksternal, melainkan rilis data  Badan Pusat Statistik ( BPS ) yang menunjukkan surplus neraca perdagangan namun tidak sehat.

Pelemahan nilai mata uang dialami hampir di semua negara yang membuat adanya penekanan dalam capaian impor.   Pelemahan rupiah pekan lalu karena adanya devaluasi yuan, tapi sekarang ini adalah sentimen soal data neraca perdagangan yang meski mencatat surplus, namun tidak sehat. David Sumual mengatakan bahwa langkah pemerintah dan otoritas meneter sudah tepat, termasuk dalam menjaga BI rate di level 7,5%. Pemerintah dan BI harus hati-hati dalam mengambil langkah, sebab kondisi global masih membayangi stabilitas nilai tukar maupun pertumbuhan ekonomi. Yang haris dilakukan pemerintah saat ini adalah stabilitas ekonomi, baru pertumbuhan. 
Tren ini terjadi karena bangkitnya ekonomi Amerika setelah krisis tahun 2008 lalu, dan juga karena dollar didorong oleh kondisi Eropa, Jepang dan China yang mengalami perlambatan ekonomi. Mudah-mudahan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tidak berkepanjangan,  karena akan berakibat semua barang impor harganya naik. Karena itu mari kita membeli produk dalam negeri, buah cukup dari negeri sendiri seperti apel Malang. 

Semoga ekonomi Indonesia terus bertumbuh !

Tag :



Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :