Waspada, Begal Motor

                                            Waspada, Begal Motor
                                                      


Terjadinya begal motor yang marak diberitakan perlu mendapat perhatian bagi masyarakat termasuk kalangan pendidikan, betapa tidak karena pelaku masih di bawah umur, bahkan ada yang masih pelajar, sehingga menarik perhatian Menteri Pendidikan. Pelaku yang masih muda dalam usia sekolah memang sangat memprihatinkan terutama kalangan pendidikan. Tidak main-main mereka berkelompok antara 3-5 anak, bahkan mereka juga melakukan tindak kekerasan untuk mendapatkan sasarannya. Mereka melengkapi diri dengan berbagai peralatan seperti senjata tajam, senjata api rakitan atau senjata mainan yang digunakan untuk menakut-nakuti. Mereka  tidak tahu tentang resiko atau akibat yang bakal terjadi, karena emosi mereka  meledak-ledak.

Berbagai kemungkinan terjadinya tindak kekerasan pada kasus begal motor memang perlu penelitian lebih lanjut. Rata-rata pelaku tindak kekerasan begal motor masih remaja, masa remaja merupakan masa transisi atau masa peralihan yang sedang mengalami proses perubahan dari masa anak-anak menuju kedewasaan. Mereka tidak bisa membedakan antara kenyataan dengan imajinasi karena imajinasi masih dibawa dari masa kanak-kanak. Mereka cenderung bersikap kritis dan menghakimi dengan mengambil keputusan secara keras. Periode ini merupakan pengembangan diri dari pengalaman sosial yang di dalamnya terdapat tuntutan sosial. Usia anak masih dalam perkembangan yang rentan untuk membedakan realita dan maya. Kita perlu melihat secara utuh faktor yang ada di sekolah, dalam lingkungan keluarga bahkan masyarakat.

Remaja belum bisa membedakan yang benar dan salah, karena itu pendidikan dan sekolah berkewajiban melakukan pendampingan pada siswa usia remaja dengan kegiatan yang produktif. Bukan hanya sekolah tetapi juga orangtua dan keluarga sebagai tempat pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga mempunyai peran yang sangat strategis untuk melakukan pembimbingan, namun tidak semua keluarga mampu melakukannya karena berbagai kesibukan orangtua, atau karena ketidakmampuan orang tua melakukan ini.

Generasi Menunduk
Saat ini  kita sedang memasuki zaman di mana generasi kita masuk dalam era menunduk, yaitu mereka melakukan permainan game melalui gadget atau tablet yang mereka miliki dengan asyiknya, sang ayah juga ibu semuanya asyik dengan gadgetnya dengan duduk bersama tidak saling bertegur sapa karena sibuk dengan tablet masing-masing. Atau dengan bermain video game masing-masing melalui tetangga yang memiliki usaha ini dengan menghabiskan waktunya berjam-jam. Memang permainan ini ada yang menjadikan siswa cerdas tetapi tidak menutup kemungkinan menjadikan malas dan terpengaruh kekerasan yang terjadi melalui permainan video game. Ada yang menganggap video game sebagai salah satu penyebab terjadinya tidak kekerasan. Sehingga diekspresikan dalam bentuk begal motor secara berkelompok.

Kemiskinan
Bisa juga terjadinya begal motor karena melihat tayangan korupsi yang muncul setiap saat di layar kaca. Mereka disuguhkan dengan berita korupsi dengan intensitas pemberitaan tinggi dan jumlahnya nominal cukup besar, para koruptor bisa berbuat apa saja karena uangnya sangat banyak, dan kadang menurut mereka vonisnya tidak seimbang dengan jumlah yang dikorupsi, bahkan diberi remisi, tak sebanding dengan nenek tua renta mengambil coklat atau kayu bakar di lahan perhutani, nenek tua harus mendekam di terali besi. Barangkali ini bentuk protes mereka yang ekspesikan dengan membentuk genk begal motor untuk mendapatkan uang. Menurut Sosiolog Musni Umar, untuk memberantas atau menghilangkan pembegalan, pemerintah harus mencari akar masalah yang terjadi. Karena pelaku tindakan pembegalan yang rata-rata anak muda tersebut ialah anak muda yang tidak memiliki pekerjaan tetapi berkeinginan memiliki sesuatu barang. 



Mereka ingin memiliki tapi apa daya karena tidak punya uang. Pelaku begal sungguhpun ada yang usia remaja dan masih sekolah, tetapi kemungkinan juga usia remaja tapi tidak sekolah karena kemiskinan dan tidak memiliki pekerjaan.  Mereka ingin seperti orang lain dengan memiliki motor, ingin memiliki ponsel yang keren namun apa daya karena ketidakmampuan untuk membeli, maka jalan pintasnya dengan nekad  meminta dengan paksa.  Motif pembegalan adalah faktor ekonomi, mereka bukan intelek sehingga bentuk kejahatannya sifatnya konvensional. Kemiskinan adalah keadaan di mana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan, padahal mereka juga ingin hidup layak seperti teman-temannya. Maka tugas pemerintah  sangat diharapkan agar angka kemiskinan ini bisa dikurangi bahkan dihilangkan. Pembegalan ini betul sangat meresahkan karena merambah hampir di semua wilayah, tidak menutup kemungkinan pembegal sangat nekad bahkan berani membunuh sasarannya. Polisi sebagai pengayom, pelindung dan pelayan  masyarakat diharap bersikap tegas, bila ada  begal yang melawan atau nekad langsung saja di dor sesuai protap yang berlaku, masyarakat juga mengapresiasi positif dengan cara demikian. 

Data dari Humas Polda Jateng Tahun 2012 terdapat 2.359 laporan curanmor dengan penyelesaian 500 kasus atau 21 %, dan tahun 2013 terdapat 1.922 kasus dengan penyelesaian 477 kasus atau 25 %, tahun 2014 menjadi 1985 kasus, SM 26 Maret 2015.

Tugas Pendidikan
Menumbuhkan karakter pada anak didik diperlukan interaksi yang baik antara sekolah, orangtua dan masyarakat. Lingkungan tripusat pendidikan ini harus mampu menerapkan strategi pengembangan karakter dan perilaku agar terbentuk kepribadian yang baik pada anak. Proses belajar harus menyentuh pendidikan karakter, yang tidak menyentuh karakter bukanlah pendidikan. Pendidikan harus bisa menumbuhkan karakter yang baik  dengan strategi pengembangan yaitu memberikan keteladanan, atau contoh yang baik, melakukan pembiasaan yang baik setiap saat  secara rutin dan bertindak disiplin, perilaku budaya disiplin seharusnya diawali dari tiap keluarga. Kesibukan orangtua dan ketidakmampuan untuk membiasakan hidup tertib, menjadikan anak usia remaja ini menjadi bebas dan cenderung liar. Kurangnya pendidikan agama dan akhlak yang diterima anak-anak kurang mampu tadi, mereka hanya kumpul-kumpul dengan gengnya dan bagaimana mereka bisa mendapatkan uang. Bagi yang masih pelajar itu tugas lembaga pendidikan, namun bagi yang tidak sekolah, masyarakatlah yang harus mendidiknya lewat pendekatan keagamaan. Orangtua seharusnya bisa ambil peran, namun kenyataannya tidak selalu demikian 

Berikan Teladan 
Menurut Mendikbud menumbuhkan karakter bukan dilakukan secara lisan, atau penjelasan berulang- ulang dengan ceramah, melainkan melalui perbuatan nyata. Mendikbud mencontohkan, jika orang tua ingin anaknya mematuhi rambu-rambu lalu lintas, maka orang tua juga harus melakukannya dalam kehidupan sehari-hari dengan tidak melanggar peraturan selama berada di jalan raya, ini bentuk keteladanan yang nyata bukan hanya dijelaskan. Orang tua mengharapkan anaknya agar tidak merokok,  harusnya orang tua juga tidak merokok, tidak bisa orangtua mengatakan Bapak sudah dewasa dan bisa cari duit, siapa bilang Bapak belum dewasa? Guru melarang muridnya agar tidak merokok, namun Pak Guru sendiri merokok, apalah artinya. Karena itu berilah contoh yang nyata, bukan hanya dengan kata-kata, sekarang banyak yang pandai berkata-kata tetapi pelaksanaannya nol besar, biasakan untuk berbuat yang baik dalam kehidupan keseharian, pasti Pembaca tahu tentang  yang baik. 

Semoga !

Kata Kunci : begal, begal motor, jambret, jambret motor 
berita begal motor ,informasi begal motor 



Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :