Wacana Sekolah Masuk Lima Hari

                                     Wacana Sekolah Masuk Lima Hari
                                                     



Gubernur Jawa Tengah Bapak Ganjar Pranowo meluncurkan gagasan wacana sekolah masuk lima hari, yaitu Senin sampai Jumat setiap minggunya dan hari Sabtu libur. Wacana ini barangkali dilatarbelakangi bahwa Pegawai Negeri Sipil di lingkungan pemerintah daerah juga sama masuk lima hari kerja sehingga lengkaplah dalam keluarga antara Bapak Ibu dan para putranya bisa berkumpul pada hari Sabtu. Orangtua dan anak bisa saling berinteraksi secara intensif dalam keluarga masing-masing. Selama ini dengan kesibukan orang tua yang berangkat kerja pagi dan pulang petang  menjadikan alasan bahwa anak-anak kurang  mendapatkan kasih sayang dari orangtua. Kasih sayang sering diwujudkan dengan pemberian fasilitas yang berupa materi  seperti kendaraan,  ponsel, gadget, tablet dan sejenisnya. Yang ujung-ujungnya bisa menjadi media untuk mengakses pornografi, yang dapat  berkembang menjadi pelaku pornografi.  Orang tua yang  sibuk mencari uang memang benar untuk kebutuhan anak, tetapi orangtua kadang lupa bahwa kasih sayang tidak harus diwujudkan dengan materi saja. Bila orangtua memberikan materi pada sang buah hati, bentuk materi itu tidak salah karena orang tua punya kewajiban, tetapi juga tidak selalu benar.


Karena itu alangkah indahnya bila antara orang tua dan anak bisa saling berkomunikasi mesra dalam keluarga. Semuanya takkan terwujud manakala anak-anak  pulang sampai petang.  Padahal dengan adanya lima hari kerja orangtua di hari Sabtu justru ada di rumah, tetapi tidak bisa berinteraksi secara efektif karena anak-anak tidak di rumah. Perlu disadari bahwa kemampuan fisik anak amat terbatas, mereka membutuhkan istirahat, setelah pulang  masih harus mengerjakan tugas rumah, rasanya sangat capai. Pasti orangtua punya kerinduan untuk bisa bercengkerama dengan sang buah hati, namun apa daya keadaan yang memaksa harus seperti ini.  Melalui keluarga orangtua juga  bisa mendidik dan membiasakan perilaku budaya disiplin, karena keluarga adalah tempat yang pertama dan utama dalam menerima pendidikan bagi anak. Sehingga wacana yang dilontarkan Gubernur Jawa Tengah juga cukup beralasan.


Sesuatu yang baru sungguhpun masih gagasan,  sudah pasti banyak tanggapan baik yang sependapat atau yang kontra. Sekilas secara pribadi ada yang bisa menerima wacana itu, karena memang setiap hari berangkat pagi dan pulang petang, rasanya sangat capai  karena butuh istirahat. Saat ini  pemerintah daerah memberlakukan program lima hari kerja, sedangkan sekolah masuk tetap enam hari. Sehingga bila sekolah ada kegiatan pada hari Sabtu, tenaga kependidikan yang mestinya libur tetap harus masuk untuk melaksanakan pemantauan, katakan Pengawas Sekolah atau Pegawai di lingkungan Dinas Pendidikan, sehingga sungguhpun libur tetap harus bekerja.


Keuntungan lain bila sekolah dan kantor sama-sama libur pada hari Sabtu, selain keluarga bisa saling berkomunikasi, sehingga menumbuhkan keakraban dalam keluarga. Barangkali keluarga bisa berakhir pekan dengan rekreasi atau kegiatan lain, atau bisa mengurangi  biaya perjalanan.  Bagi lingkungan kantor sudah pasti mengurangi beban listrik. Seperti pemberlakuan sekolah lima hari di Jakarta, pasti akan mengurangi kemacetan di jalan raya. Tetapi provinsi lain tidak bisa disamakan dengan Jakarta, karena kondisi dan karakter kotanya berbeda,  barangkali wacana ini bisa diterapkan hanya di kota-kota besar.  Di Jawa Tengah suasana daerahnya sebagian besar merupakan wilayah pedesaan, intensitas pertemuan orang tua dengan anak cukup baik, sehingga belum tepat bila harus sekolah lima hari. Hari Sabtu juga dimanfaatkan untuk kegiatan ekstrakurikuler atau pertemuan Kelompok Kerja Guru ( KKG ), pertemuan Kelompok Kerja Kepala Sekolah ( K3 S ) dan sejenisnya.


Bagi pengusaha maupun supir angkutan kota,  bus dan sejenisnya mesti menolak wacana pemberlakuan sekolah lima hari, karena akan mengurangi pendapatan mereka, belum lagi dengan kenaikan harga bahan bakar minyak. Pasti untuk biaya operasional kendaraan tidak akan mencukupi. Banyak yang berpendapat bahwa sekolah sebaiknya masuk enam hari bukan lima hari sekolah, dengan alasan bila Sabtu libur, bukannya untuk istirahat di rumah tapi bisa dijadikan anak-anak pergi ke arah yang negatif. Memang bila sekolah dipadatkan menjadi lima hari, berarti pulangnya lebih sore, sehingga bisa mengorbankan kegiatan anak pada sore hari, artinya aktivitas di sore hari dikorbankan untuk kegiatan pendidikan, anak menjadi sangat capai, dan bisa berakibat bosan sekolah. Bagaimanapun juga pendapat banyak orang memang harus dipertimbangkan. 

Saat ini dengan sekolah enam hari saja banyak Guru yang pulang sampai jam empat sore, belum lagi jalan macet dan sulitnya angkutan dan bila masuk lima hari bisa pulang malam. Di wilayah pedesaan yang merupakan sebagian besar negeri ini, anak-anak pada sore hari masih dibutuhkan untuk membantu orangtua, sehingga sebagian wali murid  cenderung untuk tetap masuk lima hari dan pulang tidak terlalu sore. Uji coba sekolah masuk lima hari mulai diujicobakan untuk tingkat SLTA di Jawa Tengah, hasilnya banyak yang keberatan karena pulang sekolah sudah sore dan belum tentu mendapat kendaraan angkutan umum, kecuali memiliki kendaraan sendiri, namun tidak semua siswa memiliki sepeda motor. Bila semua mengendarai sepeda motor juga berdampak jalanan sangat padat. Pelaksanaan sekolah masuk lima hari baru uji coba, bila banyak yang keberatan akan dievaluasi.

Mudah-mudahan pemerintah kabupaten-kota yang melaksanakan lima hari sekolah bisa berjalan dengan baik, sungguhpun memang sebaiknya masuk enam hari sekolah. Terima kasih bila Anda bersedia membantu mengerjakan survey ini,  klik di sini


Semoga ini hanya wacana saja !


Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :

1 komentar: