Membuat Pupuk Organik Solusi Cerdas Darurat Sampah

                         Membuat Pupuk Organik Solusi Cerdas Darurat Sampah

                                                                           

Membuat pupuk organik dari sampah merupakan solusi cerdas dalam menghadapi darurat sampah. Mendengar kata sampah kita membayangkan bau tidak sedap yang menyengat, kotor dan menjijikkan, sehingga sering dihindari orang. Sampah merupakan produk sisa-sisa rumah tangga,  yang sudah tidak dipakai lagi, pasti setiap hari rumah tangga menghasilkan sampah dan tidak pernah berpikir bagaimana cara mengatasinya secara cerdas. Banyak yang di buang di tempat sampah bahkan ada yang dengan sengaja di buang di kali. Sampah secara umum ada beberapa kelompok atau jenis yaitu kelompok organik yang berasal dari sisa tanaman, sisa makanan, buah-buahan atau sayuran dan dedaunan, sampah anorganik yang terdiri berbagai jenis bebatuan, bongkaran bangunan, kertas, plastik, logam, kaca dan lain-lain. Sampah logam masih bisa dikelompokkan menjadi logam besi, seng, aluminium dan yang lain. Selain sumber sampah dari rumah tangga, sampah juga bisa berasal dari pasar, pusat pertokoan, pabrik dan yang lain.  Di tinjau dari bentuknya ada sampah padat, dan sampah cair, misalnya limbah pabrik berupa air limbah atau limbah rumah tangga berupa air kotor dari dapur, kamar mandi dan kamar cuci. Limbah pabrik atau sampah industri dapat berupa limbah cair yang berbahaya dan sampah padat. Limbah cair yang berbahaya bisa mencemari lingkungan, oleh karena itupabrik harus memiliki instalasi pengolahan limbah, yang mestinya merupakan salah satu persyaratan permohonan izin pendirian pabrik, bila tidak dipenuhi makasampah cair akan dialirkan kesungai dan membahayakan masyarakat sekitar pabrik, termasuk binatang air seperti ikan dan yang lain. Dalam artikel ini akan berkonsentrasi khusus tentang sampah organik yang ada di sekitar kita, sehingga kita bisa mengolahnya menjadi pupuk organik.

Darurat Sampah
Hampir setiap kota mengalami darurat sampah, terjadi darurat sampah karena produksi sampah baik dari rumahan dan pusat perbelanjaan seperti pasar terus melimpah, namun pengelolaan dan pengolahan sampah belum maksimal sehingga antara sampah yang diolah dengan produksi sampah tidak seimbang. Produksi sampah berlebih dibanding sampah yang bisa diolah sehingga terjadi penumpukan sampah sisa yang tidak terolah. Pengolahan sampah selama ini dilakukan secara konvensional dengan dibakar dan dibantu para pemulung untuk mengambil sampah plastik, kertas dan logam yang masih memiliki nilai ekonomi, sungguhpun ada beberapa kota yang sudah mengolahnya menjadi pupuk.  Kita sangat bersyukur dengan adanya pasukan pemulung yang sangat membantu mengelola sampah plastik, kertas dan logam untuk di daur ulang. Dari data  Suara Merdeka 5 Juni 2015 yang ditulis oleh Bapak Drs. Prasetiyo Ichtiarto, M.Si disebutkan bahwa di Jawa Tengah tahun 2014 menurut laporan yang diterbitkan dari Badan Lingkungan Hidup diperkirakan dari 35 kabupaten / kota mengasilkan sampah sekitar 43.139,56 m3 dengan rincian volume tertinggi  oleh Kota Semarang dengan produksi 4.321.89 meter kubik, dan terendah Kabupaten Banjarnegara dengan 84 meter kubik dan yang bisa dikelola baru sekitar  60 %, sisanya belum terkelola dengan baik. Setiap hari dipastikan produksi sampah akan terus meningkat, sejalan dengan perkembangan pemukiman dan prasarana lain. Secara kasar produksi sampah yang bisa dikelola dan diolah hanya sekitar 60% sedang sisanya belum bisa dikelola dengan baik, sehingga tiap hari akan terus menumpuk. Tempat Pembuangan Akhir sampah akhirnya akan kelebihan muatan. Pemerintah juga mengalami kesulitan memindahkan tempat pembuangan akhir sampah, karena sering terjadi penolakan oleh masyarakat sekitar. Sebetulnya pemerintah sudah membuat sejenis aturan tentang pengelompokan sampah yang organik dengan sampah yang anorganik termasuk plastik dan logam. Namun kadang ketidakdisiplinan masyarakat dalam membuang sampah menjadikan sampah tercampur antara organik dan yang bukan organik. 

Peran Serta Pendidikan
Dengan tidak terkelolanya sampah dengan baik, karena managemen sampah melibatkan banyak pihak, maka dipastikan sisa sampah yang tak tertangani akan semakin meningkat. Oleh karena itu melalui peran pendidikan sangat dibutuhkan untuk memberikan solusi cerdas. Di satuan pendidikan diperlukan pelatihan untuk  menangani sampah dengan belajar membuat kompos atau pupuk organik. Generasi muda perlu di sadarkan bahwa sampah yang ada di sekitar kita bila di kelola dengan baik, bahkan bisa mendatangkan keuntungan dan menyejahterakan warga. Sampah terbukti bisa diolah menjadi gas yang bisa menghidupkan nyala api kompor, yang paling sederhana yaitu dengan diolah menjadi pupuk kompos atau pupuk organik.. Kompos bisa dimanfaatkan untuk media tanaman produktif. Bila setiap satuan pendidikan bisa mengolah sampah organik menjadi pupuk organik, maka penumpukan sampah akan bisa dikurangi, dan sekaligus mendidik generasi muda kita untuk bisa mengelola sampah secara mandiri di rumah masing-masing, atau sekitar RT masing-masing. Secara jangkan panjang maka sampah akan terkelola dengan baik, bahkan bisa menguntungkan.

Melibatkan Masyarakat Sekitar
Sampah rumah tangga terus berproduksi setiap hari, dan masyarakat belum memanfaatkan pembuatan pupuk kompos dari sampah. Kebanyakan hanya dibuang ditempat sampah bahkan ada yang dibuang di kali. Masyarakat perlu digerakkan dengan pembuatan kompos secara sederhana sehingga bisa menjadi media tanam yang memenuhi kebutuhan rumah tangga. Di lingkungan perumahan sudah ada pemilahan sampah, yang organik dan non organik maupun sampah lainnya. Namun di lingkungan pedesaan pengelolaan sampah belum dilakukan secara maksimal, hanya di buang begitu saja dan dibakar. Masyarakat hanya mencari mudahnya saja dengan membuang sampah di tempat sepi atau di kali. Karena itu perlu pelatihan untuk membuat kompos secara sederhana. Ada beberapa desa, kelurahan maupun lingkungan yang telah memanfaatkan pembuatan pupuk kompos dengan baik, tetapi itupun belum bisa mengurangi volume sampah yang makin besar. Namun bila setiap keluarga mampu mengolahnya, pasti volume sampah ini akan tertangani dan tempat pembuangan akhir sampah tidak akan menumpuk dan over kapasitas. Penulis berharap dengan pengolahan sampah organik di tiap lingkungan keluarga atau beberapa keluarga bergabung untuk membuat pupuk organik dari sampah organik, dan satu dari mereka untuk bertanggungjawab atau mengelola pembuatan pupuk organik, maka ke depan sampah akan terkelola dengan baik. Namun masyarakat kita belum semuanya menyadari akan pentingnya membuat pupuk dari sampah organik, teorinya sudah dijelaskan tapi tidak jalan juga. Niat yang baik harus terus diusahakan dan jangan putus asa. Penulis sudah mencobanya membuat pupuk kompos dengan mengambil sampah dari sisa daun pembungkus tempe dari pembuat tempe kedelai untuk dibuat pupuk kompos organik, hasilnya dapat sebagai media tanam kebutuhan keluarga, seperti pohon cabai, cesin dengan menggunakan media polybag. Lumayan karena tidak harus membeli pupuk organik, namun tetangga sekitar belum ada yang tertarik untuk meniru tentang cara pembuatan kompos.

Pembuatan Pupuk Kompos


1. Siapkan sampah organik dari sisa rumah tangga, berupa dedaunan, sisa atau potongan buah, rumput atau sisa
    sampah hasil panen yang sudah dikumpulkan. Hasil yang terbaik dari sisa dedaunan, buah-buahan sisa sortiran
    yang memiliki kandungan air. Setelah terkumpul bisa di potong kecil-kecil agar proses pembusukan akan
    semakin  cepat. Dalam skala besar bisa dibantu dengan mesin pencacah, siapkan juga kotoran hewan, seperti
    kambing, kotoran kelinci dan yang lain, fungsinya untuk mempercepat proses pembusukan dengan
    perbandingan sekitar 25 %. Bisa juga abu atau sekam untuk bahan campuran pembuatan pupuk, dan pupuk
     kompos yang sudah matang sebagai perangsang atau aktivator.
2. Siapkan tempat atau wadah untuk media pembuatan kompos seperti ember besar, atau tong plastik dan
    sejenisnya. Bila volume sampahnya cukup banyak bisa dengan membuat kotak semen ukuran 2 X 3 meter, agar
    bisa menampung lebih banyak sampah.
3. Semua bahan yang sudah disiapkan dicampur antara sampah, sekam, atau abu serta kotoran hewan dan pupuk
    kompos yang sudah matang sehingga tercampur rata.
4. Masukkan campuran bahan kompos ke wadah yang sudah disiapkan, bisa ember atau tong plastik atau bak
    semen. Setelah semua bahan dimasukkan dalam wadah, di percikkan air secukupnya dengan campuran
    gula untuk mempercepat proses fermentasi. Dibutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga bulan sehingga pupuk
    kompos siap digunakan. Dalam pemrosesan ini bisa diaduk dengan dibalik setiap 2 minggu sekali dan
    dipercikkan air campuran gula agar cepat matang atau dengan EM 4 yang bisa dibeli di depot pertanian. EM 4
    pertanian juga bisa diganti dengan pemanfaatan sisa-sisa buah yang sudah ranum atau membusuk seperti,
    mangga, pepaya, atau nasi sisa, caranya bahan tadi dimasukkan dalam airdan dihancurkan sehingga berfungsi
    sebagai EM 4, selanjutnya disiramkan pada pupuk kompos tadi.
5. Sampah dalam bak semen ditutup dengan terpal agar terjadi proses fermentasi, proses ini ditandai dengan
    suhu yang panas.

Sampah yang telah berubah menjadi pupuk bentuknya seperti tanah gembur warna hitan dan tidak berbau, dan siap digunakan sebagai media tanam. Selamat mencoba.

Semoga Bermanfaat !






Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :