Penikmat Sex Dipublikasikan Untuk Efek Jera

                                    Penikmat Sex Dipublikasikan Untuk Efek Jera                                                                                          

Dengan maraknya prostitusi online dan sejenisnya, yang melibatkan banyak pihak dari penjual jasa, ada ayam kampung, ayam kampus, ayam abu-abu, ayam biru, ibu rumah tangga pegawai karyawan sampai yang mengaku artis, atau artis sungguhan dengan tarip puluhan bahkan ratusan juta. Mereka menawarkan jasa layanan sex yang offline maupun online melalui internet. Melalui media online yang mengglobal bisa diakses bukan hanya di Indonesia namun sampai mendunia, sungguhpun menguntungkan karena bisa berkomunikasi bebas. Prostitusi online yang menjajakan sex sebagai pelaku penjual jasa atau penjual diri sering menjadi masalah, apalagi dengan ditutupnya lokalisasi pelacuran, sehingga mereka menyebar di berbagai tempat termasuk di perkampungan penduduk, di rumah-rumah kos dan di hotel-hotel dari melati sampai berbintang sebagai tempat menyalurkan hasrat sex.  Model penawarannya saat ini melalui media sosial, facebook, twitter dan sejenisnya, yang menjadikan pelaku penjual diri dengan model online ini bisa diakses secara luas. Pelaku prostitusi online saat ini  bisa  menawarkan sendiri dalam bertransaksi sehingga tidak perlu bentuan germo, pendapatan mereka semakin lebih baik karena dana langsung mereka terima dari pelanggan. Pelaku bertransaksi secara sembunyi-sembunyi, mereka tidak mau terlacak oleh lingkungannya. Karena akan dikucilkan bila ketahuan bahkan diusir warga, bisnis esek-esek ini bisa menjadi penyebab munculnya berbagai penyakit kelamin, dan resiko tinggi terinveksi HIV/ AIDS. Bila salah satu dari mereka baik penjual jasa atau pengguna jasa terinveksi HIV yang akan menjadi AIDS maka virus HIV akan menyebar dengan cepat. Aktifitas sex ini bisa menjadi malapetaka yang tidak pernah terpikirkan mereka, karena bisa terinveksi virus yang mematikan dan belum ada obatnya hingga saat ini. Dan bagi pekerja sex anak sekolahan bisa meningkatnya aborsi, pembuangan bayi. Ternyata aktivitas ini terus merebak bahkan menjadi sebuah gaya hidup.  Hukum ekonomi akan berlaku bahwa pelaku PSK bisa laris karena banyaknya pembeli yang membutuhkan jasa PSK. Ada pelaku prostitusi yang barangkali tidak bayaran karena hanya pertemanan sesama pegawai suka sama suka dan cenderung perselingkuhan yang dilakukan pada jam istirahat, atau mengambil  waktu kerja dengan berbagai alasan hanya untuk begituan.  Katanya model pertemanan ini tidak membutuhkan bayaran,  cukup mau dan suka dan cenderung pasangannya tidak berganti, karena sudah terlanjur cinta banget. Pelaku pria bisa masih lajang dan bisa sudah punya isteri dan pelaku wanita juga sama bisa lajang atau sudah memiliki suami yang sah. Istilah kerennya adalah bagi wanita memiliki Pria Idaman Lain ( PIL ) dan bagi pria memiliki Wanita Idaman Lain ( WIL). PIL dan Wil saat ini juga sudah menjadi gaya hidup modern. Mereka menganggap tidak ada orang yang mengetahui, sangat rapih namun ternyata ada yang mencermati gerak-geriknya, yang mengetahui hanya pura-pura tidak tahu. Buktinya pada waktu melakukan kencan dan masuk di hotel, bisa dijebak oleh institusinya maupun Polisi. Ini adalah suatu bukti ada yang mengintili ( mengikuti ). Ada lagi jenis sex bebas  maksudnya berhubungan  sex dengan siapa saja dan bergantian pasangan.  Terserah apa istilahnya yang pasti hubungan suami isteri dengan bukan pasangannya itu dosa dan melanggar hukum ke tujuh “ Jangan berzinah “ .Negeri ini banyak orang munafik, banyak kepura-puraan yang mengaku orang baik, banyak yang mengaku jujur dan mengaku bersih, namun ternyata pelanggan sex, nafsu rendah yang sangat memalukan.

Prostitusi Makin Marak
Prostitusi yang marak saat ini melibatkan banyak pihak termasuk para pelajar dan mahasiswa, yang berprofesi ganda memang sangat memprihatinkan. Bagaimana masa depan bangsa ini karena untuk mengakses pornografi sangat mudah dan adegan mesum bisa dilihat dengan bebas oleh siapa saja, termasuk anak sekolahan. Sungguhpuna sekolah punya tanggungjawab, namun diluar sekolah mereka bisa berinteraksi dengan bebas.  Faktor penyebab terjadinya PSK  bukan hanya sekedar faktor ekonomi, tetapi sudah masuk ke masalah gaya hidup. Mereka berkeinginan mengikuti gaya hidup kekinian dengan memiliki ponsel canggih, banyak uang dengan pakaian yang mahal, tapi apa daya keuangan tidak memungkinkan. Menjadi pelayan budak nafsu adalah solusinya karena keterpaksaan dengan kondisi keuangan, sehingga melacurkan diri, yang bisa mendatangkan uang dengan mudah dan kerjanya ringan enak dan nikmat, yang akhirnya menjadi kebutuhan. Prostitusi marak karena ada penjual dan ada pembeli, ada yang menjual jasa layanan sex dan banyak yang membelinya, sungguhpun itu melanggar norma. Pengguna layanan sex   selama ini tidak tersentuh dan jarang diperbincangkan, yang sering disalahkan hanya pihak penjual. Bila tidak ada pembeli dengan sendirinya tidak akan ada yang mau menjual diri. Prostitusi terus berkembang karena banyak pembelinya, dan ini yang tidak pernah tersentuh. Pembeli atau pengguna layanan sex mulai dari anak seragam putih merah.( temuan Walikota Surabaya), seragam putih biru, putih abu-abu, buruh, karyawan dan menurut Gubernur Jakarta banyak pengguna jasa PSK  pegawai negeri, pejabat negara, dan  pengusaha.  Bila pembaca adalah PNS tidak usah takut sepanjang bukan pelanggan sex. Bila ada penjual dan tidak ada yang membeli, maka secara perlahan penjual pasti akan berkurang sungguhpun hilang sama juga tidak,  karena sejak zaman Perjanjian Lama juga sudah ada wanita sundal. Yang terjadi saat ini prostitusi berkembang sangat pesat dengan berbagai gaya dan cara, bahkan di media pernah diberitakan prostitusi masih di bawah umur yang digrebeg Polisi ternyata masih  kelas dua SMP, dengan bayaran Rp 1 juta rupiah, dan ia menerima Rp 600  ribu. Bagaimanapun pendidikan memiliki tanggungjawab yang besar dalam mengatasi PSK Pelajar

Perlu di Publikasikan
Di negeri ini banyak orang munafik sok suci, ternyata bangsa yang terkenal santun dengan menjunjung tinggi budi pekerti luhur, terkuak dengan maraknya prostitusi yang memalukan dan memilukan. Prostitusi bisa terjadi karena ada penjual jasa dan ada pembeli untuk menyalurkan hasrat sex. Memalukan memang karena pembelinya tidak pernah tersentuh hukum, atau yang membuat aturan juga pelaku kita juga tidak pernah tahu, dan tidak bisa menuduh demikian. Kasus artis AA pelanggannya dari berbagai kalangan dan berani membayar mahal, pasti bukan orang biasa karena bayarannya sampai puluhan juta. Lalu siapa pelanggannya, itu yang mesti dicari, dari mana uang sebanyak itu ? Dalam pengakuan RA sang mucikari AA salah satu pelanggan yang sering menyewa PSK dalam koordinasinya adalah kalangan anggota DPR dan beberapa kalangan lainnya, ucapnya di Mapolres Jakarta Utara, Senin, 11 Mei 2015. Benar atau tidak kita tak tahu karena itu perlu dikonfrontir oleh kepolisian, namun usul Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa agar penikmat sex wajahnya perlu dipampangkan dalam media sosial baik juga, seperti yang diterapkan di Swedia, katanya. Peraturan saat ini memang tidak bisa menjerat pembeli layanan sex, atau barangkali dibuat demikian untuk melindungi diri sendiri. Dalam banyak kasus, perselingkuhan dan persetubuhan dengan bukan pasangannya tidak bisa diproses hukum  karena harus ada alat bukti dan saksi. Bagaimana mungkin orang berhubungan badan di dalam ruang ada yang bisa melihat untuk mengambil gambarnya sebagai alat bukti dan ada yang melihat sebagai  saksi. Mereka melakukan secara sembunyi-sembunyi dalam ruangan yang terkunci, pasti sulit untuk mencari alat bukti dan saksi.  Namun yang pasti pembeli layanan sex mestinya harus ditindak dan dikenai sanksi hukum, caranya yang tahu adalah bagian hukum, Menteri Sosial usul seperti di atas tadi.  Barangkali aturan hukumnya  yang perlu direvisi diperbaiki supaya negeri ini tidak tambah rusak, sehingga aturan bisa menjerat mereka. Bila sudah pasti perlu dipublikasikan wajahnya untuk membuat efek jera. Di Swedia pelaku atau pembeli layanan sex yang dikenai sanksi hukum, di Indonesia jelas aturannya yang harus direvisi. Namun pertanyaannya siapa yang akan membuatnya, bila pembuat aturan juga pelakunya, kata mereka. Bisnis prostitusi kelas atas memang tidak mudah dilacak, lalu terserah Tuhan lah yang akan menghukum. Negeri ini banyak terjadi bencana barangkali karena dalamnya sudah parah dengan korupsi merajalela, perselingkuhan berkembang sampai persetubuhan dengan bukan suami dan isterinya, elit politik ribut persoalan partai.  Akan ada bencana apa lagi di negeri ini, barangkali Tuhan murka pada umat-Nya. Akan tetapi di negeri ini masih ada orang yang benar dan takut akan Tuhan. Karena itu penyelenggara negara harus bisa menjadi contoh dan teladan bagi seluruh rakyat dan bangsa Indonesia. Itu yang sedang ditunggu, Semoga !        

Untuk kita renungkan !
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :