Tanggungjawab Pendidikan dalam Mengatasi PSK Pelajar

                            Tanggungjawab Pendidikan dalam Mengatasi PSK Pelajar
Merebaknya berita lewat media online tentang prostitusi dikalangan pelajar yang semakin santer, menandakan bahwa PSK Pelajar  betul-betul berkembang luar biasa, ironis sebagai  bangsa Indonesia yang dikenal sangat santun, menjunjung tinggi norma dan etika. Topyulianto tertarik untuk mengangkat artikel dengan judul Tanggungjawab Pendidikan dalam mengatasi PSK Pelajar. Ternyata bisnis ini sangat laris dan berkembang pesat dengan melibatkan banyak kalangan, dari ayam kampung, ayam kampus sampai artis, bahkan yang lagi ngetop dengan istilah ayam abu-abu atau ayam biru. Pembeli dan peminatnya juga beragam dari kalangan seragam putih biru, putih abu-abu, rakyat biasa, kaum buruh, karyawan,  pegawai serta pejabat pemerintah.   Harganya juga beragam ada yang ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu sampai puluhan juta, bahkan ratusan juta rupiah hanya untuk begituan. Waktu yang dibutuhkan konon hanya beberapa jam, atau menit dengan penghasilan haram yang melimpah, dibanding kerja sungguhan.

Sejak zaman Perjanjian Lama sudah dikenal adanya  perzinahan, sehingga 10 hukum  Tuhan diturunkan kepada bangsa Israel di Gunung Sinai lewat Nabi Musa, yang  dikenal dengan Dekalog dalam bahasa Yunani δέκα λόγοι, pada hukum ke tujuh disebutkan  “ jangan berzinah” (Kel 20 : 14). Perintah Tuhan ini menganjurkan supaya umat manusia  menjaga kesucian tubuhnya. Maksud dari perintah Tuhan adalah  bahwa manusia dilarang melakukan persetubuhan dengan orang yang bukan dan belum resmi menjadi suami isteri atau orang bukan suaminya atau bukan isterinya. Perintah ini menyatakan kehendak Tuhan akan kesucian pernikahan dan seluruh kehidupan seksual di junjung tinggi sebagai pemberian Tuhan yang mulia dan sakral.

Alasan Melakukan Prostitusi
Mereka melakukan prostitusi diawali dengan melihat dari internet bersama teman atau  melalui warnet, terangsang dan ketagihan untuk melihat lagi, karena hasrat yang menggebu-gebu lalu ingin melakukannya, dan ada peluang untuk itu  serta dibarengi faktor ekonomi, karena ada yang mau membayarnya dan terjadilah. Dengan  menonton video porno yang dijual murah di lapak-lapak dengan sembunyi-sembunyi, penjual pun sangat hati-hati menawarkan barangnya, hanya orang tertentu yang dia kenal untuk ditawari, barang baru katanya.  Mereka melakukan persetubuhan setelah melihat video porno dan melakukan dengan teman dekatnya dalam group diskusi dan kerja kelompok, tidak mancho katanya bila belum pernah melakukan hubungan badan, atau agar tidak disebut ketinggalan zaman, karena sama-sama cinta atau suka sama suka.  Di kalangan pelajar mula-mula melakukan persetubuhan dengan teman akrab yang sudah dikenalnya. Akhirnya merebak ke faktor ekonomi untuk mendapatkan uang karena ingin tampil keren seperti temannya, bisa membeli gadget yang mahal, bahkan di lingkungan ayam kampus katanya untuk bayar kos dan biaya kuliah. Mereka bisa mendapatkan uang  dengan mudahnya  sehingga pundi-pundi akan cepat terisi, hanya dengan kerja enak, cuma sebentar menyenangkan dan nikmat katanya. Akhirnya kegiatan ini, karena ada penjual dan pembeli maka hukum ekonomi berlaku sehingga  menjadi peluang bisnis haram.  Banyak sebutan untuk kegiatan ini, dari istilah bisnis esek-esek, sampai istilah yang menjijikkan dengan sebutan bisnis lendir,  bahkan sekarang dengan istilah keren prostitusi online. Dulu dikenal dengan pelacur, wanita “P”, atau di daerah ada sebutan lain. Pelacur pelajar atau PSK Pelajar ini banyak diminati penikmat sex sesaat, karena masih asli, belia mulus, tubuhnya  sintal dan apa istilahnya.

Peran dan Tanggungjawab Lembaga Pendidikan
Informasi yang didapatkan bahwa bisnis ini sangat rapih, ada calo, makelar,  mucikari, pencari pria penikmat sex atau pembeli dan pelaku wanita pekerja sex komersial ( PSK ), yang mencari mangsa para pria hidung belang itulah yang kerja keras dengan membawa album foto dan tarif harga. Siapapun ditawari dengan bisik-bisik dan menyodorkan album foto, bahkan ada yang masuk pasar untuk menawarkan jasa ini, kata pemilik warung yang pernah ditawari, murah katanya hanya belasan ribu, barangnya bagus masih muda bisa memilih  anak sekolahan. Bila ok maka order berjalan dengan menentukan tempat dan waktu, maka kegiatan esek-esekpun  akan berjalan. Jasa pencari mangsa akan mendapat upahnya. Banyak cara yang ditawarkan oleh jasa pencari pria hidung belang, termasuk peserta pelatihan atau peserta diklat yang menginap di hotel di daerah wisata yang sejuk. Tentu ini suatu cerita baru yang memang betul baru diketahui, lucu memang. Caranya dengan kalimat sederhana misalnya butuh selimut Pak atau Mas, butuh jahe anget, sampai jahe susu, atau istilah butuh analisa, si Ana dan si Lisa, dan yang lain. Penjaja selimut hangat ini bukan hanya pria tapi juga wanita yang jualan keliling di tempat penginapan,  sama polanya dengan cara yang unik, misalnya barangkali bapak butuh pijat plus dan yang lain.

Dengan kondisi seperti ini dan yang ditawarkan ternyata masih status sebagai pelajar, betul-betul sangat mengejutkan dan memprihatinkan,  maka harus ditangani dengan serius yang melibatkan banyak pihak terutama lembaga pendidikan. Istilah mereka ayam abu-abu, ayam biru, ayam kampung, ayam kampus. Bila ayam abu-abu maka dipastikan PSK-nya siswa berseragam putih abu-abu alias siswa setingkat SMA. Betul-betul anak sekolahan masih menggunakan seragam sungguhan. Semula memang tidak percaya apa betul demikian, ternyata memang benar anak sekolahan. Bahkan diberitakan pembelinya juga ada yang masih pelajar, sungguh menyedihkan bila tidak segera diatasi karena masa depan bangsa dan negara ada di tangan mereka. Walikota Surabaya pernah menemukan pembelinya anak Sekolah Dasar, dengan bayaran seribu dua ratus rupiah, dan PSK-nya nenek usia enam puluh tahun. Mau jadi apa bangsa ini bila seusia pelajar sudah melacurkan diri, karena ada penawaran maka ada pembeli yang tertarik pada usia sekolah, katanya masih lugu, asli polos dan lucu katanya bila diajak bermain. Sehingga pria yang sering iseng dan langganan kencan juga tertarik dengan usia ini.

Dari data ditunjukkan hasil survey bahwa :
a.  62,7 %   : siswa perempuan sudah tidak perawan lagi;
b.  21,3 %   : pernah melakukan aborsi dan;
c.  97 %      : pernah berciuman dan oral sex.
Data lain menyebutkan :
a.  Remaja usia 15-19 tahun          :  46,9% sudah melakukan seks pranikah;
b.  Remaja setingkat SMP-SMA   : 63% telah melakukan hubungan seks;
c.  21% diantaranya telah melakukan aborsi;
d.  75% pelacur pelajar bukan karena ekonomi tetapi karena perilaku seks bebas (Lumoindong).

Melihat dua data tersebut ada kemiripan sehingga disimpulkan hasil survey itu benar. Oleh karena itu tugas lembaga pendidikan dalam mengatasi permasalahan ini harus sangat hati-hati.  Banyak cara yang bisa dilakukan dengan pemerikasaan handphone secara berkala. Mengamati perilaku siswa, karena siswa yang sudah masuk dalam lingkaran bisnis prostitusi pasti akan tampil beda karena memiliki banyak uang. Memang disadari bahwa siswa di sekolah waktunya sangat terbatas sekitar 4-5 jam, selebihnya siswa ada di luar sekolah pasti bukan tanggungjawab lembaga pendidikan lagi. Dan kegiatan bisnis haram bisa dilakukan dengan bebas, dan yang pasti siswa sudah menjadi tanggungjawab keluarga. Lembaga pendidikan dengan melihat data ini, maka perlu segera mengambil solusi yang tepat dalam mengatasi permasalahan ini, bisa dilakukan dengan pendekatan kerohanian melalui kegiatan keagamaan dengan diisi ceramah yang berkaitan pendidikan karakter dan pendekatan pada Tuhan. Bisa diisi dengan ceramah dan mengundang dari Dinas Kesehatan atau lembaga swadaya masyarakat yang peduli pada pencegahan HIV/ AIDS. Karena kegiatan prostitusi sangat dekat dengan HIV/ AIDS, serta penyalahgunaan narkoba. pengidap HIV/ AIDS yang mematikan jumahnya terus bertambah dan posisinya bergerak pada usia muda. Sekolah bisa mengundang dokter spesialis yang berkaitan dengan masalah prostitusi dan reproduksi. Sekolah tetap memiliki tanggungjawab terhadap peserta didiknya dalam mengatasi perilaku menyimpang ini.  Kegiatan ceramah diharapkan dilakukan secara berkala untuk mengingatkan pada peserta didik, yang kahirnya ada pertobatan dan tidak melakukan lagi. Peran Guru Bimbingan dan Konseling sangat diharapkan untuk mengatasi agar kegiatan ini komunitasnya tidak tambah banyak, dan memengaruhi siswa lain.

Tanggungjawab Orang Tua dan Keluarga
Selepas dari sekolah maka sudah menjadi tanggungjawab pihak keluarga atau orangtua. Karena itu orangtua harus mengetahui jadwal kegiatan putranya, pulang sekolah sudah tahu waktunya dan kegiatan lain orang tua harus mengetahui jadwal. Sehingga bila pulang terlambat orang tua bisa menegur putranya dan memantau putranya. Tetapi tidak semua orangtua memahami tentang kegiatan putranya. Dan kegiatan bisnis ini  justru dilakuka pada siang hari sewaktu siswa masih menggunakan seragam sekolah. Karena identitas sekolah ini yang menjadikan penikmat menjadi bangga karena betul-betul ayam abu-abu yang dibelinya. Karena itu orangtua harus waspada dengan pornografi yang mudah di akses para putranya

Semoga Bermanfaat !

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :