Kualitas Guru Harus Ditingkatkan

                                                 Kualitas Guru Harus Ditingkatkan
                                                                                         

Kualitas Guru harus ditingkatkan melalui Uji Kompetensi, karena Uji kompetensi sebagai pemetaan yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terhadap 1.6 juta Guru Indonesia, hasilnya belum memuaskan, nilai yang didapatkan masih rendah yaitu di bawah 60 dari rentang 0 sampai 100 untuk 1,3 juta Guru Indonesia. Uji Kompetensi Guru ( UKG ) dilakukan terhadap Guru TK, SD, SMP, SDLB, SMPLB, SMA, SMALB dan SMK. Karena itu diperlukan terobosan untuk memperbaiki keadaan ini. Dari hasil Uji Kompetensi Guru sebagian besar Guru Sekolah Menengah Pertama bisa mendapatkan nilai diantara 90-100, yang lainnya hanya mendapatkan nilai antara 0 sampai 30.

Standar Kompetensi Guru
Uji Kompetensi Guru ini untuk mengukur empat standar kompetensi Guru yaitu Kompetensi Paedagogik, Kepribadian, Sosial, dan  Kompetensi Profesional sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional  Nomor 16 Tahun 2007. Dikatakan bahwa banyak Guru nyang justru tidak menguasai materi ajarnya, padahal cara mengajarnya dinilai sudah baik. Dari hasil uji kompetensi memperlihatkan bahwa penguasaan terhadap materi ajar dan kemampuan mendidik Guru Sekolah Dasar yang paling tertinggal. Dari peserta justru Guru Sekolah Dasar ini yang paling banyak pesertanya hampir 800.000 Guru.
Bapak Sumarna Surapranata sebagai Direktur Jendral Guru dan Tenaga Pendidik di Jakarta awal Juli 2015 mengatakan bahwa hasil uji kompetensi Guru ini menjadi potret nyata kualitas guru kita. Terlepas dari yang mempermasalahkan validitas atau alat ukur uji kompetensi, kenyataannya memang demikian. Hasil uji kompetensi ini sebagai salah satu dasar untuk mendesain pendidikan dan pelatihan Guru.  Padahal dalam Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 di sana sudah dijelaskan dengan rinci tentang materi kompetensi Guru, tiap mata pelajaran, dari Guru Taman Kanak-Kanak sampai Guru Mata Pelajaran di SMP, SMA maupun SMK. Materinya cukup jelas, bila mau membaca pasti bisa mendapatkan nilai yang baik. Dari data yang ada bahwa yang nilainya jelek dari kelompok Guru Sekolah Dasar, barangkali budaya membaca belum menjadi kebutuhan bagi teman Guru di Sekolah Dasar. Kenyataan ini yang harus disadari untuk perbaikan di masa yang akan datang, teman guru pasti bisa.

Peningkatan Kualitas Guru
Peningkatan kualitas Guru bukan hanya tanggungjawab pemerintah pusat, pemerintah daerah juga ikut bertanggungjawab untuk meningkatkan kualitas Guru, termasuk Organisasi Profesi Guru. Selain itu yang paling utama adalah Pribadi Guru itu sendiri yang harus mau meningkatkan kualitas diri, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang pendidikan. Banyak cara yang bisa ditempuh yaitu dengan melanjutkan studi bagi yang belum memenuhi kualifikasi akademik S1, dan bagi yang sudah S1 bisa melanjutkan ke jenjang S2. Meningkatkan kompetensi tidak mesti harus sekolah lagi, bisa diatasi dengan banyak membaca. Bahan bacaan cukup banyak terdapat di sekolah, mulai dari Koran Harian, Buletin Pendidikan yang berbayar atau sekolah yang berlangganan, atau bisa memanfaatkan Perpustakaan Daerah, bagi yang dekat dengan kota. Saat ini sekolah bisa mengakses internet dan bisa belajar lewat internet. Dari hasil uji kompetensi terbukti Guru SMA yang berpendidikan S2, maupun S3 bisa meraih skor diatas 70. Bagaimanapun Guru kunci utama kualitas pendidikan, bangsa di masa depan ini ada ditangan Guru,  karena itu kualitas Guru harus baik.

Pemerintah berencana akan menugaskan Guru yang nilainya diatas 70 untuk menjadi instruktur pelatih bagi Guru yang nilainya rendah. Agar Guru bisa berkonsentrasi menjadi instruktur pelatih, maka instruktur ini tidak dikenai jam wajib mengajar tatap muka minimal 24 jam perminggu, sebagai gantinya para instrukur membina guru lain. Usulan dari Dewan Penasehat Ikatan Profesi Guru Indonesia agar model pendidikan dan latihan di perbaiki. Diklat yang diberikan kepada para Guru mestinya harus sesuai dengan materi yang diajarkan kepada siswa. Banyak terjadi diklat yang telah diikuti dengan mengutus Guru sebagai wakil Guru, kadang tidak disosialisasikan kepada teman Guru, sehingga informasi yang disampaikan pemerintah tidak sampai kepada Guru. Demikian juga diklat yang diikuti Pengawas Sekolah, personalia yang diutus sering tidak berubah barangkali memang tidak ada Pengawas Sekolah yang mampu di kirim untuk mengikuti diklat. Secara umum Pengawas Sekolah memiliki kompetensi yang sama dan mereka siap untuk mengikuti diklat, rerata mereka berpendidikan Magister.

Mutu Guru yang belum maksimal menjadi keprihatinan bersama, bisa terjadi barangkali dari Lembaga Pendidikan Pencetak Guru yaitu Perguruan Tinggi Pencetak Guru. Bila sumbernya dari LPTK, maka peran LPTK perlu ditingkatkan, niat baik ini perlu ditanggapi secara arif, yang pasti kualitas Guru kedepan harus lebih baik. Secara umum LPTK pencetak Guru katakan yang dulu IKIP menjadi Universitas dengan Fakultas Pendidikan, sudah bekerja dengan baik dan lulusan Para Guru lulusan LPTK Reguler ( kuliah reguler di FKIP ) di lapangan juga baik. Tetapi para Guru lulusan LPTK Reguler ini belum mengikuti Uji Kompetensi, karena mereka masih menjadi Guru Wiyata Bakti. Mari kita bersama-sama  ambil bagian untuk meningkatkan kualitas Guru.

Bantu aku mengerjakan survey di sini

Semoga Bermanfaat !

Sumber : Kompas, Permendiknas 16 Tahun 2007, Pengalaman Pribadi
Tag : rendahnya kualitas guru
         kualitas guru
         kualitas pendidik
         kompetensi pendidikan





Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :