Masa Pensiun Tanpa Post Syndrom Power

Masa Pensiun Tanpa Post Syndrom Power


Tanggal satu Agustus 2016, admin topyulianto.com memasuki purna tugas sebagai Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pendidikan, karena sudah waktunya pensiun sesuai aturan kepegawaian. Pensiun bukan berarti tidak bekerja, pekerjaan dan aktivitas tetap dalam pelayanan di masyarakat melalui Lembaga Pendidikan yang non-pemerintah, melalui lembaga keagamaan atau yang lain. Saat menjelang pensiun di sibukkan untuk menulis laporan akhir kuliah, karena ada yang memberi bantuan pendidikan di Pasca Sarjana bukan menanggung biaya kuliah. Memang sejak dulu saya berniat melanjutkan studi Magister Pendidikan, hanya karena ketidakmampuan biaya, atau sulitnya mengatur waktu sehingga baru kali ini saya bisa mengikuti studi lanjut setelah menjelang purna tugas sebagai Pegawai Pemerintah. Doktor Sudarmin dosen senior di Sekolah Tinggi Teologi kepada saya pernah mengatakan: "semua ada waktunya, dan Tuhan memberi kesempatan tepat pada saat dibutuhkan". Saya bersyukur karena ada yang memberi bantuan pendidikan, Puji Tuhan, karena Tuhan memberikan berkat karunia untuk melanjutkan studi tepat pada waktu sedang dibutuhkan. Yang pasti harus benar-benar serius dalam belajar agar lulus tepat waktu dengan nilai yang baik sesuai harapan, agar tidak ketinggalan jauh dengan para mahasiswa yang muda.

Dengan kesibukan itulah maka tidak sempat menulis artikel untuk mengisi blog ini. Sebagai admin dan pengelola blog memang harus selalu menulis untuk mengisi blog dengan konten yang baik sesuai kemampuan admin, dengan harapan agar traffiknya selalu meningkat. Hanya satu artikel perbulan di pertengahan sampai akhir tahun, bahkan di bulan November 2015 sama sekali tidak ada artikel yang muncul di topyulianto.com. Konsentrasi saya memang tertuju pada studi dan penelitian untuk menyiapkan Laporan Akhir kuliah berupa tesis. Penelitian terkonsentrasi pada pemuda dan remaja sebagai aset masa depan bangsa. Ada yang menanyakan tentang studi, mengapa pada saat menjelang pensiun bukan dahulu waktu masih muda?. Jawaban yang tepat adalah bahwa pendidikan berlangsung selama hidup dan tidak dibatasi usia, karena itu menjelang purna tugas pun juga saat yang tepat untuk melanjutkan studi. Selain untuk meningkatkan kemampuan daya pikir, menghindari kepikunan dan bisa memberi semangat pada generasi muda agar tetap semangat untuk tetap belajar.

Di benak saya keinginan untuk belajar dan juga menulis adalah panggilan jiwa selain untuk mengisi waktu luang karena saya suka, juga agar tidak pikun, sekaligus bermanfaat sebagai bentuk   Cara Meningkatkan Daya Kerja Otak .  Banyak orang yang cemas tentang apa yang akan dilakukan setelah pensiun, bahkan banyak yang mengalami post syndrome power. Sebagaimana banyak orang sudah mengetahui bahwa post syndrome power adalah gejala yang terjadi pada pribadi karena merasa ketakutan kehilangan kejayaannya, kedudukannya, jabatan, karir, keterkenalannya, kepopulerannya, kekayaannya, kecantikannya atau hal lain di masa lalunya di kala ia berhasil.

Bagi pegawai atau perorangan yang tidak memiliki jabatan atau karir atau katakan pegawai biasa-biasa saja, barangkali tidak perlu risau. Karena pada waktu aktif bekerja dan setelah purna tugas juga tidak berubah jauh, bahkan setelah purna tugas dapat mengisi dengan kegiatan lain yang produktif atau hanya sekedar mendampingi cucu di rumah. Sebagai pegawai biasa sepertinya memang tidak mempermasalahkan, karena pada waktu aktif sebagai pejabat juga tidak memiliki kelebihan yang menonjol, karena semua pekerjaan bisa diselesaikan secara bersama-sama dengan rekan sekerja dan di kantor tidak sendirian, semuanya dibagi sesuai dengan tugas masing-masing. Tidak semua pegawai yang memiliki jabatan penting juga harus mengalami post syndrome power, semua dapat dikendalikan dengan perasaan rendah hati. Departemen dan karir bukan segala-galanya, bahkan Gus Dur pernah mengatakan bahwa: "Tidak ada jabatan di dunia ini yang harus dipertahankan mati-matian" jabatan adalah amanah yang harus dilaksanakan dengan baik, karena seseorang yang dipilih menduduki jabatan mestinya harus rendah hati, karena harus dapat berperan sebagai pengayom, dan pelayan masyarakat, bukan sebagai penguasa yang harus ditakuti. Departemen atau posisi semua ada batas akhirnya, baik karena aturan atau karena pensiun, jadi semua harus siap menghadapinya. Jadi pensiun tanpa post syndrom power juga ada dan bisa, sepanjang sudah mempersiapkan diri dan tetap rendah hati, bukan rendah diri. Memang membaca sangat penting untuk menambah wawasan, dan dapat mempersiapkan diri melalui bahan bacaan, namun tidak semua pribadi mau dan berkesempatan untuk membaca, bahkan ada yang tidak suka membaca.

Ketakutan kehilangan jabatan bisa kita maklumi dengan datangnya Pemutusan Hubungan Kerja atau PHK secara tiba-tiba karena terjadinya kepailitan yang dialami perusahaan, atau pengurangan pegawai dengan aturan Pensiun Dini dan sebab yang lain. Setiap orang yang memiliki tanggung jawab keluarga pasti ada rasa takut, bingung dan cemas bila tiba-tiba ada pemutusan hubungan kerja. Karena sumber penghasilan utama berhenti, padahal masih banyak tanggungan yang belum lunas dan belum terselesaikan termasuk mempersiapkan masa depan anak-anak. Banyak keluarga yang tidak siap, dan memang tidak memiliki tabungan yang cukup, andaikan memiliki tabungan bila dipergunakan terus-menerus akan habis juga. Kondisi yang demikian bukan menjadi alasan bahwa keluarga harus pecah karena masalah keuangan. Keterpurukan akan menjadi jalan yang baik untuk tetap bangkit sebagai solusinya, dan mohon kekuatan Tuhan, bukan hanya ditanggung sendirian. Sebagai orang beriman memang harus memercayakan semuanya pada Sang Khalik yang di atas. Dalam Matius 6: 26 dituliskan: "Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang disorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? "Makna yang sangat dalam tentang ayat Alkitab ini sebagai penghiburan pada umat-Nya, jangan khawatir Tuhan akan memberikan jalan, tetapi juga harus selalu berusaha. Dalam bahasa Jawa sering dipakai " ana dina ana upa " Maksudnya adalah ada hari pasti ada nasi atau makanan, tetapi harus diusahakan karena makanan tidak datang dengan sendirinya.

Para pensiunan ada yang berpendapat bahwa masa pensiun adalah waktu untuk istirahat, artinya tidak perlu bekerja lagi dan masih menerima gaji pensiun setiap bulan. Tidak terlalu salah bila berpendapat demikian, namun mestinya tetap ada aktivitas jasmani agar tubuh tetap segar dan aktivitas mental sehingga memori tetap terjaga. Perlu adanya kegiatan bersama sesama pensiunan sehingga bisa saling bersilaturahmi dan bisa diisi dengan kegiatan bersama dalam Kelompok Adi Yuswa (kelompok para orang tua) dengan latihan menyanyi, kegiatan traveling, kegiatan senam atau yang lain. Post syndrom power dapat dialami oleh siapa saja, terutama pada pensiunan yang sudah usia lanjut, ia akan merasa sudah tidak bermanfaat, sudah tidak dihargai lagi. Tapi sebagian orang ada yang bisa menghadapi masa atau fase ini dengan baik dan dapat menerima kenyataan sehingga membuat berkat dalam hidupnya, ia akan rendah hati dan cenderung hidup dalam kesederhanaan, bukan hidup yang serba kekurangan. Sungguhpun ia mampu dibidang ekonomi tetapi ia mampu menjaga perasaannya sehingga bisa hidup dalam kesederhanaan. Sehingga hidupnya diberkati dan menjadi teladan bagi lingkunannya, perasaan post syndrom power tidak akan pernah melekat pada dirinya.

Terima Kasih Semoga Bermanfaat!

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :