Mengenang Bapak Pluralisme DR. K.H.Abdurrahman Wahid

Mengenang Bapak Pluralisme
DR. KH Abdurrahman Wahid



KH Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur, adalah seorang Tokoh Pluralisme. Dia sangat toleran bisa menerima dan diterima dari kalangan agama dan golongan apa saja. Tanggal 30 Desember bertepatan dengan meninggalnya Bapak Abdurrahman Wahid pada 30 Desember 2009 di Jakarta pada usia 69 tahun. Sebagai Tokoh Muslim Indonesia pandangannya dapat diterima oleh berbagai kalangan. Beliau juga sebagai tokoh politik dengan mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Karena itu beliau adalah Tokoh Politik yang terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia ke-4 menggantikan Presiden BJ Habibie. KH. Abdurrahman Wahid terpilih menjadi Presiden melalui Sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat hasil Pemilihan Umum Tahun 1999. Sehingga beliau dilantik menjadi Presiden pada tanggal 20 Oktober 1999 dan menjabat sampai 23 Juli 2001 yang digantikan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri.


Gus Dur merupakan anak pertama dari enam bersaudara, lahir dari keluarga yang sangat dihormati oleh komunitas Muslim di Jawa Timur. Dia menikah dengan Ibu Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat anak semuanya perempuan. Dia mengaku secara terbuka bahwa ia memiliki darah atau keturunan Tionghoa.

Pendidikan

Usia empat tahun Gus Dur pindah ke Jakarta dari Jombang bersama orang tuanya dan masuk pendidikan di Jakarta, di Pondok Pesantren, masuk SMP tahun 1954 dan masuk di Pondok Pesantren di Yogyakarta, Magelang dan tahun 1959 kembali ke Jombang. Dia pernah menjadi Guru dan Kepala Sekolah madrasah, pernah menjadi wartawan. ayahnya pernah menjabat sebagai Menteri Agama, dan pada tahun 1953 ayahnya meninggal karena kecelakaan kendaraan, saat itu Gus Dur akan memasuki pendidikan usia Sekolah Menengah Pertama. Pada tahun 1963 Abdurrahman Wahid menerima beasiswa pendidikan dari Departemen Agama untuk studi di Universitas Al Azhar Kairo Mesir. Saat itu di tahun 1965 Abdurrahman Wahid bekerja di Kedutaan Besar Indonesia di Mesir bertepatan dengan peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Indonesia. Tahun 1966 Gus Dur pindah kuliah di Irak dalam rangka untuk melanjutkan beasiswa yang ia terima, ia juga pergi ke Belanda dalam rangka melanjutkan studi di Universitas Leiden, namun gagal, terus ke Jerman dan Perancis dan akhirnya tahun 1971 Abdurrahman Wahid pulang ke Indonesia.

Penghargaan

Penghargaan yang telah diterimanya yaitu:

1. Ramon Magsaysay, sebuah penghargaan yang prestisius untuk kategori Community Leadership. Gus Dur juga
     dinobatkan sebagai Bapak Tionghoa oleh tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie yang dikenal
     sebagai Kawasan Pecinan.
2. Penghargaan Simon Wiesenthal Center, sebuah Yayasan yang bergerak dalam penegakan Hak Asasi Manusia,
     menurut mereka Dia merupakan salah satu tokoh yang peduli Hak Asazi Manusia.
3. Dia mendapat Penghargaan dari Mebal velour yang berkantor di Los Angeles, karena Abdurrahman Wahid
    dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas, salah satunya membela Warga Khong Hu Tsu di
    Indonesia untuk mendapatkan hak-haknya yang terpasung selama pemerintah Orde Baru.
4. Penghargaan dari Universitas Temple, yang membuat namanya diabadikan sebagai Nama Kelompok Study
    Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study.

Doktor Kehormatan

KH Abdurrahman Wahid memperoleh gelar Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa) dari Lembaga Pendidikan di luar negeri antara lain:

1. Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Universitas Thammasat, dari Asian Institute of Technology,
     serta dari Universitas Chulalongkon, Tahun 2000 semuanya di Bangkok.
2. Doktor Kehormatan bidang Ilmu Ekonomi dan Manajemen, Ilmu Hukum dan Politik, dan Ilmu Humaniora dari
     Pantheon Universitas Sorbonne, Paris Tahun 2000.
3. Doktor Kehormatan dari Universitas Twente, Belanda Tahun 2000.
4. Doktor Kehormatan dari Universitas Jawaharlal Nehru, India Tahun 2000.
5. Doktor Kehormatan dari Universitas Soka Gakkai, Tokyo Tahun 2002.
6. Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Universitas Netanya, Israel Tahun 2003.
7. Doktor Kehormatan dari Universitas Sun Moon, dan Penghargaan Bidang Hukum dari Universitas Konkuk,
     Seoul, Korea Selatan Tahun 2003.

Sumber  Wikipedia Indonesia dan Bacaan lain.





Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :