Menyadari Makna Kesombongan

Menyadari Makna Kesombongan


Kesombongan berasal dari kata dasar sombong yang artinya menghargai diri sendiri secara berlebihan. Sengaja artikel ini diberi judul Menyadari Makna  Kesombongan, karena dalam kehidupan sehari-hari sering seseorang tidak menyadari tentang  kalimat yang diucapkan itu bermakna kesombongan, keangkuhan, atau congkak. Bahkan
kalau boleh berbicara jujur  tiap orang pernah berperilaku sombong, baik disadari maupun tidak disadari. Sombong, congkak, tinggi hati atau angkuh bisa dilihat dari perilakunya, gayanya dan bisa didengar dari ucapannya. Kesombongan juga bisa diartikan terlalu memegahkan dirinya atau terlalu membanggakan dirinya yang menggambarkan keangkuhan yang seolah-olah orang lain tidak bisa melakukannya. Bisa ditafsirkan bahwa orang sombong tidak menghargai orang lain, dan cenderung merendahkan orang lain, yang bisa karena sudah pembawaan. Menurut Thomas Aquinas bahwa kesombongan merupakan perasaan bahwa manusia menilai dirinya sendiri secara berlebihan dibanding dengan kenyataan. Sehingga bila dirasakan seperti mengharapkan sesuatu yang tidak wajar. Tipe ini cenderung senang dipuji, haus akan pujian, atau suka disanjung. 

Jenis-jenis kesombongan :
1.  Merasa bahwa kebaikan hanya berasal dari dirinya.
2.  Memandang bahwa orang lain lebih rendah.
3.  Merasa bahwa kebaikan karena jasanya.
4.  Membanggakan sesuatu yang tidak dimilikinya.
    I Korintus 13:4 mengajarkan : Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu.
    Ia tidak  memegahkan diri dan tidak sombong. Memegahkan diri artinya sama dengan membanggakan
     diri, dan Alkitab mengajarkan untuk tidak berlaku sombong. Indikator orang yang sombong bisa        diamati
     antara lain :
1.  Tidak mau mendengarkan pendapat orang lain dan sulit menerima saran atau kritik.
2.  Senang di puji, bahkan merasa lebih dibanding orang lain.
3.  Bisa bermegah diri berkat anugerah Tuhan yang bisa berkembang menjadi kesombongan karena          memiliki
     fisik yang ideal dengan ketampanan, kecantikan, harta yang berlebih, kedudukan dan yang lain.
4.  Merasa mampu melakukan semuanya karena kepandaiannya.
5.  Seolah olah dirinya tidak pernah berbuat kesalahan.
6.  Suka menonjolkan dirinya karena menganggap paling mampu.

Kecenderungan orang yang memiliki sifat sombong dengan tidak mau menerima saran, bahkan menyalahkan orang lain sehingga mudah emosi, mudah sakit hati dan tidak mau mawas diri, bahkan membela diri sungguhpun jelas-jelas secara umum dia membuat kesalahan dan dapat berkembang menjadi pendendam. Menurut Tipe Temperamen oleh O Hallesby Penerbit Credo Forlag Oslo, Norwegia ( 2013:51) dalam terjemahannya demikian : Tipe Temperamen Kolerik memiliki dorongan yang kuat untuk bertindak juga memaksakan orang lain untuk menyesuaikan diri dengan rencana pribadinya. Biasanya ia melihat orang lain hanya sebagai alat bagi dirinya dan rencananya, dan ia menaruh perhatian terhadap mereka selama mereka dapat dimanfaatkannya. Di luar batas itu ia tidak memperhatikan lagi. Dalam kehidupan nyata saat ini banyak kasus demikian, yang kadang dilihat dan dipertontonkan lewat media masa. Bersukurlah yang sempat membaca artikel ini, karena bisa membantu diri untuk melihat diri sendiri sehingga tidak terjebak dalam kesombongan, termasuk penulis.
Kesombongan sekecil apapun pasti tidak baik dalam komunikasi sosial dan cenderung tidak disukai, setiap orang bisa terjebak dalam kesombongan sekecil apapun. Oleh karena itu setiap orang senantiasa berusaha untuk tidak sombong. Sungguhpun kesombongan bisa terjadi secara tiba-tiba yang tidak tersadari. Di sinilah pentingnya pendidikan, baik pendidikan formal, informal maupun nonformal. Guru sebagai Pendidik lagi-lagi mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk mendidik agar peserta didik terhindar dari kesombongan. Misalnya :  Bila tidak saya tandatangani surat itu pasti tidak akan laku. ( padahal itu sudah pekerjaannya karena jabatan yang diembannya untuk melayani ); Kalau saya tidak menyiapkan minum, semua pasti kehausan,  dan masih banyak bentuk kalimat kesombongan yang lain yang tidak disadari.

Menyadari Kesombongan
Kesombongan bisa dihindari dengan masing-masing mau mawas diri, sungguhpun sombong barangkali merupakan  sifat atau watak seseorang. G.Ewald dalam Psikologi Kepribadian oleh Drs Sumadi Suryabrata (2010:76) membedakan antara temperamen dan watak. Temperamen boleh dikatakan  tetap selama hidup, jadi tidak mengalami perubahan, sedangkan  watak sungguhpun pada dasarnya sudah ada, namun masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Sifat atau watak kesombongan bisa berubah menjadi tidak sombong karena watak bisa mengalami perkembangan dan pertumbuhan, dan dapat melalui pendidikan dan pengalaman. Sepanjang mau mawas diri dan mau belajar dari kritikan orang lain. Bila kesombongan berasal dari berkat yang berupa kekuasaan karena memiliki jabatan atau karena merasa memiliki masa, maka jabatan yang dimiliki adalah amanah yang diberikan oleh lembaga atau pemerintah, mestinya sebagai sarana untuk melayani sesama, pada saatnya juga akan berakhir, karena jabatan tidak abadi dan tidak perlu dipertahankan mati-matian, kata Gus Dur. Kesombongan yang berlebih cenderung pada keangkuhan, seolah-olah tidak ada orang lain yang lebih berkuasa. Ada yang mengatakan bahwa di atas langit masih ada langit.



Jabatan atau kedudukan adalah sebagai pelayan bukan untuk dilayani. Jabatan adalah sebuah amanat yang harus dilaksanakan untuk melayani, dan pada saatnya harus berhenti. Kekayaan merupakan berkat yang bisa disalurkan untuk membantu orang lain yang kekurangan, dan kekayaan tidak abadi pada saatnya bisa habis bila pengelolanya tidak benar.  Dan masih banyak cara untuk menghindari kesombongan asalkan mau menyadari tentang makna kesombongan. Semua orang pasti tidak mau disebut sombong. Karena itu perlu memahami sepenuhnya tentang sebab-sebab kesombongan, dan biasanya yang mengerti bahwa seseorang itu sombong adalah orang lain. Karena pelaku cenderung tidak pernah menyadari kekuranganpada dirinya. Karena itu  dengan berjiwa besar perlu menanyakan kepada orang lain tentang bagaimana sikap atau tampilan, gaya atau ucapan tentang dirinya, untuk menghindari sifat kesombongan. Tapi kenyataannya banyak yang tidak siap untuk mendapatkan kritik. Di media sering dipertontonkan tentang kekeliruan atau kesalahan yang sudah jelas, namun juga tidak menyadari sudah berbuat kesalahan yang mengarah kesombongan. 

Semoga bermanfaat !

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :