Peminta-minta dan Pengamen di Jalanan Bisa Dipenjara

Peminta-minta dan Pengamen di Jalanan Bisa Dipenjara



Peminta-minta atau kebanyakan orang menyebut pengemis adalah orang yang pekerjaannya meminta belas kasihan supaya diberi sedekah. Sering mereka beraktivitas di perempatan jalan pada saat lampu merah menyala, atau ke rumah-rumah, ke toko, ke warung makan, kafe. di pasar atau di mana saja. Dengan pakaian seadanya yang terkesan kumal dengan memegang kotak kecil atau bungkus permen, bungkus rokok, atau apa saja yang bisa untuk tempat uang recehan. Banyak yang meminta-minta sebagai pekerjaan, dengan berbagai alasan, karena kemiskinan, kebodohan atau karena menganggur, malas dan alasan lain. Biasanya pengemis beroperasi jauh dari rumah tinggalnya untuk menghindari orang yang dikenalnya. Pergi dari rumah dengan pakaian layak dan di tempat operasi mereka ganti pakaian, ada yang seperti itu. Memang ada yang awalnya berkelompok lalu menyebar membagi wilayah, dan penghasilan mereka bisa lebih besar dari pada bekerja. Sengaja dipakai kata “penghasilan” karena mereka sengaja meminta-minta yang menghasilkan uang berlebih dibanding bekerja harian sehingga mereka menjadikan mengemis sebagai pekerjaan, sungguhpun ada yang karena keterpaksaan untuk sekedar mempertahankan agar tetap bisa bertahan hidup. Sungguhpun ia mampu untuk bekerja serabutan artinya bekerja apa saja yang penting mendapat rezeki halal.

Munculnya Istilah Pengemis
Konon dahulu di Surakarta pada saat Raja Pakubuwono X, sebagai raja yang sangat dermawan selalu membagi-bagikan sedekah berupa uang kepada rakyatnya pada hari Kamis sore. Raja keluar istana dengan berjalan kaki menuju ke Masjid Agung, rakyat kecil menyambut dengan duduk atau jongkok berjajar di kanan kiri jalan sambil mengelu-elukan Sang Raja, raja memanfaatkan momen ini untuk memberikan sedekah berupa uang kepada rakyat kecil. Tradisi ini terus berjalan seiring dengan perjalanan waktu setiap hari Kamis ( Bahasa Jawa Kemis ) menurut Dimas 2013:4. Sehingga muncul kata kemis menjadi ngemis ( Bahasa Jawa), orang yang mengemis disebut pengemis atau peminta-minta, kata mengemis ini menjadi dikenal dan masuk dalam kosa kata Bahasa Indonesia yang digunakan sampai saat ini, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 2002 disebutkan minta-minta; minta sedekah; mengemis  ( KBBI 2002 : 746).

Mental Pengemis
Maksudnya adalah meminta sedekah sudah menjadi kebiasaan dengan tidak pernah merasa malu, pekerjaan meminta-minta disebut sebagai mental pengemis. Tipe ini tidak mesti orang yang kekurangan, maksudnya orang yang tidak memiliki uang atau harta, kadang mereka mempunyai fasilitas lebih, rumah yang layak dengan smartphone canggih, kendaraan bermotor, memiliki TV, tetapi mereka masih meminta belas kasihan orang dengan  mengemis sebagai pekerjaan.  Ada yang kondisi fisiknya sehat, bugar, tetapi sebagai pengemis, beruntung bila tidak meminta dengan paksa. Malas dan kemalasan ini yang menjadikan mengemis sebagai pekerjaan, dan ada yang hasil mengemis atau meminta-minta uangnya untuk bersenang-senang dengan membeli minuman keras, membeli rokok, bersyukur bila tidak membeli pil koplo ( narkoba ).

Cacat Fisik 
Kondisi fisik yang cacat ada yang menjadi alasan untuk meminta belas kasihan orang, barangkali bisa dimaklumi, namun tidak selalu demikian, karena ada yang cacat fisik dengan tidak memiliki dua kaki, tetapi ia mau bekerja keras dengan berjualan koran di jalan atau dipinggir jalan dan usaha yang lain, dan menjadi berkat bagi dia. Namun ada yang sengaja pura-pura cacat dengan salah satu tangannya masuk dalam baju, sehingga terkesan hanya memiliki satu tangan untuk meminta-minta. Ada juga yang sengaja dengan berpura-pura kakinya luka dengan dibalut kain pembalut luka dan ditetesi betadine atau obat merah untuk mengelabuhi agar orang yang melihat merasa iba, sehingga mau memberikan sedekah yang lebih. Ada lagi yang pura-pura kakinya pincang, namun bila diamati bila sudah di luar area, dia berjalan normal. Kesimpulannya memang ada yang cacat fisik sungguhan sehingga harus mengemis, tapi ada juga yang sehat dengan pura-pura kakinya luka dan mengemis, ini termasuk yang malas dan mengemis menjadi pekerjaan. Pakaian yang digunakan sengaja yang jelek dan berkesan orang tak berpunya, untuk menarik perhatian agar orang mau memberikan sedekah. Banyak cara yang digunakan untuk menarik belas kasihan yang ujung-ujungnya adalah malas bekerja. Yang pasti kelompok ini kadang sangat mengganggu kenyamanan. Seorang ibu membawa anak kecil, kadang anak kecil itu bukan anak sendiri, tetapi meminjam atau menyewa dengan bayaran tertentu atau anak saudaranya, dengan harapan mendapat belas kasihan. Yang kasihan justru sang anak karena dibawa kian kemari dengan teriknya sinar matahari atau kehujanan. Ada juga yang seusia anak sekolah dasar yang sengaja pulang sekolah untuk menjadi pengemis di lampu merah, mereka lari bila ketemu gurunya, dan ini sangat membahayakan dirinya dan orang lain karena banyak kendaraan. Alasan mereka untuk uang jajan, atau untuk membantu orangtua, katanya. Biasanya berasal dari keluarga kurang mampu, yang bertempat tinggal di kota.

Dipaksa Mengemis
Pernah diberitakan bahwa penculikan anak usia Sekolah Dasar, ternyata dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggunjawab untuk dipaksa mengemis dan tiap hari ditarget untuk setor dalam jumlah tertentu  kepada majikan. Bila tidak memenuhi target maka anak ini akan di marahi dan tidak menutup kemungkinan di sakiti tubuhnya atau tidak diberi jatah makan. Sehingga anak harus bekerja keras untuk mendapatkan uang setoran agar tidak dimarahi. Ini terjadi waktu lalu sebelum peralatan komunikasi belum secanggih saat ini, sehingga sulit dilacak. Karena mereka dibawa jauh dari asal tempat tinggalnya, beda dengan saat ini bahwa anak usia sekolah dasar sudah mengenal telepon, sehingga bila dilepas mereka sudah bisa lapor ke polisi terdekat, atau mampu berkomunikasi dengan keluarganya. 

Pengemis Nakal yang Meresahkan
Kesuksesan menjadi pengemis menjadikan teman atau saudaranya berkeinginan ikut menjadi pengemis, karena hanya dengan modal nekad, mereka bisa mendapatkan banyak uang.  Banyak yang fisiknya sehat tetapi mereka jadi pengemis juga. Karena mengemis menjadikan mereka banyak uang, sehingga bisa menular pada orang lain. Mental pengemis ini memang perlu dicegah, karena akan menular pada saudara atau temannya untuk menjadi pengemis. Bila tidak dicegah maka peminta-minta akan terus bertambah banyak dan akan menjadi pemandangan yang memalukan seolah-olah rakyat Indonesia miskin. Agar adil maka masyarakat juga tidak perlu memberikan uang kepada pengemis, karena bila terus diberi maka hukum ekonomi akan berjalan. Ada peminta-minta dan karena ada pemberinya, maka akan sulit di cegah kebiasaan mengemis ini.  Kehadiran pengemis memang dapat menggangu kenyamanan karena mereka nekad meninta sedekah, dan kita tidak tega bila tidak memberi, katanya kan bersedekah itu baik, dan hanya seribu rupiah. Namun bila tidak dicegah maka lingkaran ini tidak akan berhenti. Belum lagi adanya pengemis yang nakal dengan meminta dengan paksa, dengan memukul kaca, atau pintu mobil. Bahkan ada yang menggores cat mobil dengan alat musiknya yang terbuat dari tutup botol yang dilubangi dan dirangkau. Selain itu ada juga pengemis berprofesi ganda, sebagai pengemis tetapi juga sebagai pemalak dan penodong.

Pengamen Jalanan
Pengamen adalah orang secara sendiri-sendiri atau berkelompok untuk menghibur melalui nyanyian dengan lagu-lagu atau irama  dengan lagu-lagu yang biasanya lagi ngetop,  dengan tujuan untuk mendapatkan imbalan berupa uang. Imbalan berupa uang, atau pernah menyaksikan imbalan berupa sebatang rokok. Pengamen biasanya beroperasi di tempat umum, atau di jalan raya dengan memasuki kendaraan umum, bisa bus umum atau kereta api. Namun dengan penertiban melalui regulasi di lingkungan perkeretaapian, maka mengamen di kereta api sudah tidak ada lagi. Yang sering terjadi adalah mengamen di jalan pada saat lampu merah menyala yang disebut pengamen jalanan ( Inggris : street singers ). Ditinjau asal-usul pengamen, maka ada pengamen yang profesional sebagai seniman sejati, mereka menyalurkan kemampuan seninya untuk menyanyi, karena memiliki bakat seni dan modal suara yang bagus dan kemampuan memainkan alat musik.  Pengamen tipe ini tidak semata-mata untuk mendapat imbalan, mereka menyalurkan bakat seninya,  mereka diberi berapapun akan diterimanya dengan senang hati dengan ucapan terima kasih. Ia menjual keahlian bermain musik dengan kemampuan olah suara. Mereka yang profesional perlu diapresiasi dengan baik. Namun tipe pengamen model ini saat sekarang sudah jarang bila tidak boleh dikatakan tidak ada. 

Pengamen Memaksa
Pengamen memang tidak sama antara yang satu dengan yang lain, seniman yang lagi sepi pentas ada juga yang menjadi pengamen, sungguhpun di lampu merah mereka tidak mesti memaksa. Mereka menampilkan kemampuan olah musik atau ketrampilan yang lain untuk mendapatkan imbalan sekadarnya. Bila pendengar puas maka akan memberikan bukan hanya uang seribuan, bisa lima ribuan ia berikan sebagai bentuk apresiasi. Memang ada pengamen yang rendah hati dan betul-betul menghibur penumpang. Pengamen tipe ini termasuk pengamen yang baik, mereka sangat sopan dan tidak meminta uang dengan paksa, bahkan mereka mengucapkan terima kasih. Namun tidak menutup kemungkinan adanya pengamen yang nakal dengan meminta paksa, bahkan bila tidak diberi karena betul-betul tidak memiliki uang kecil, ia akan mengatakan dengan kata-kata yang tidak sopan. Ada yang memalak, ada juga pengamen berprofesi ganda, sebagai pengamen dan pelaku kejahatan. Sungguhpun tidak semuanya demikian  namun masyarakat pengguna kendaraan umum sangat mengganggu kenyaman.  Bus baru berjalan beberapa ratus meter pengamen minta turun dan ada pengamen lain yang naik. Sudah tahu bahwa bus sudah penuh penumpang, ia akan mamaksa masuk dan menyanyi setelah selesai menyodorkan bungkus permen atau apa saja untuk meminta imbalan. Sopir dan kondektur memang tidak bisa berbuat banyak, mereka hanya diam saja, barangkali karena tidak mau ada masalah. Memang ada pengamen yang terpaksa mengamen karena tidak memiliki pekerjaan, karena mencari pekerjaan juga tidak mudah, dan ketrampilan mereka sangat terbatas. Sehingga pilihan menjadi pengamen mereka lakukan, untuk bertahan hidup.  Masyarakat yang bepergian tidak mesti memiliki uang lebih, tetapi kadang mereka justru diminta dengan paksa oleh pengamen yang berprofesi ganda. 

Harapan dan Solusi
Pemerintah Provinsi, kabupaten/ kota memiliki otonomi untuk menertibkan keberadaan pengemis dan pengamen jalanan, dengan Peraturan Daerah, yang menyebutkan di sana bahwa pengamen, pengemis dan gelandangan bisa di jatuhi sanksi pidana atau di hukum baik yang mengamen, mengemis maupun yang memberi sedekah, sehingga adil.  Pengemis dan pengamen pasti takut bila ada sanksi akan dihukum, selain pemerintah mendidik masyarakat juga ketertiban kota akan menjadi lebih baik. Ada daerah yang sudah melakukan dengan membuat Perda, ini merupakan langkah maju. Bagi lingkungan pendidikan perlunya memberikan pemahaman pada peserta didik, bahwa mendidik memang harus tegas dan tegel ( Bahasa Indonesia : tega ), sehingga dalam kurun waktu tertentu Indonesia bebas pengemis dan pengamen serta bebas gelandangan. Semua warga negara pasti ingin hidup nyaman di negri sendiri, membuat Perda tentang larangan mengemis dan mengamen yang meresahkan dan menjadikan tidak nyaman memang sangat dibutuhkan, termasuk sanksi bagi yang memberikan sedekah di jalan. Bagi yang uangnya berlebih, sedekah bisa disalurkan lewat badan amal yang resmi bagu umat Islam atau lewat persembahan di gereja bagi yang Kristiani, atau disalurkan ke lembaga sosial seperti Panti Asuhan, Panti Jompo, Panti Wreda dan masih banyak lagi. Penyaluran secara pribadi dengan mengundang orang, berulang kali justru menjadi musibah karena berdesak-desakan dan ada yang terinjak-injak sehingga jatuh korban. Kita mestinya belajar dari pengalaman masa lalu agar tidak ada korban lagi.
Mereka membutuhkan makan setiap hari, karena tidak punya sehingga terpaksa harus meminta-minta atau meminta karena terpaksa. Para gelandangan dan pengemis merupakan tanggungjawab negara sesuai amanat Undang-Undang Dasar, karena itu negara ikut tampil untuk mengambil peran, melalui Dinas Sosial sudah dilakukan, sungguhpun belum maksimal. Pasal 34 UUD 1945 mengamanatkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara, selain itu juga disebutkan bahwa negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat, dan memperdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat manusia.
Bagi pengamen profesional, karena bakat alam perlu disalurkan melalui wadah kesenian atau mendapat kesempatan untuk pentas melalui Gedung Kesenian, yang berbayar sebagai pengganti biaya hidup. Atau pemerintah membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi anak negeri, sebagai bentuk pengentasan kemiskinan. Bagi anak-anak yang tidak mampu sekolah karena terkendala biaya pendidikan, sungguhpun sudah disediakan Bantuan Operasional Sekolah, Kartu Indonesia Pintar, namun kenyataannya masih banyak anak usia sekolah yang tidak sekolah karena tidak mau sekolah atau karena tidak mempunyai biaya untuk sekolah, sehingga ada  yang terpaksa menjadi peminta-minta. Oleh karena itu diperlukan suatu sekolah yang betul-betul gratis agar mereka betul-betul bisa sekolah.
Yang menjadi permasalahan saat ini adalah sulitnya peluang mendapat pekerjaan, apalagi dengan persaingan yang sangat ketat, dan kemampuan yang terbatas dan apalagi tidak memiliki ketrampilan menjadikan mereka tidak akan pernah mendapat kesempatan bekerja. Kemiskinan yang terjadi di negri ini barangkali karena adanya kelompok orang yang secara sendiri-sendiri atau bersama yang melakukan kesepakatan jahat untuk mengeruk uang negara untuk kepentingan kelompok atau golongan. Indonesia memang sudah makmur dan sejahtera, tanahnya subur, sehingga Koesplus menggambarkan, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, namun keadilan belum merata, masih banyak warga negara yang miskin ilmu, dan miskin harta, jalan satu-satunya adalah meminta sedekah. Sayangnya yang memberi sedekah pada orang miskin yang meminta dijalanan, justru disalahkan karena dianggap melanggar hukum. Lalu solusinya bagi segenap warga yang uangnya berlebih, sedekah bisa disalurkan lewat badan amal dan zakat atau lewat persembahan di gereja bagi yang Kristiani, atau langsung pada Panti Asuhan maupun Panti Wreda, Panti Jompo dan Lembaga Sosial yang lain.

Semoga Bermanfaat !

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :