Menghadapi Orang Sulit

Menghadapi Orang Sulit



Kata sulit dalam KBBI diartikan sulit sekali, susah (dikerjakan, diselesaikan dsb.), menyulitkan artinya membuat sulit, mempersulit sama dengan membuat lebih sulit. Orang yang sulit indikatornya adalah orang yang hanya menuruti kemauannya atau keinginannya sendiri dan cenderung tidak tunduk pada aturan dan norma yang berlaku secara umum di lingkungannya. Kecenderungan orang sulit biasanya tidak mau mengalah, maunya menang sendiri, kadang hanya menuntut hak tapi lupa pada kewajibannya. Tidak mau mendengarkan pembicaraan orang lain, namun bila punya usul harus disetujuinya, bila tidak ia akan menyerang, dengan kata-kata dan bentuk yang lain. Sehingga orang lain akan menyebutnya sebagai orang sulit (bahasa Jawa disebut wong angel). Keberadaan orang sulit sudah ada sejak zaman dulu, secara umum orang sulit dapat ditemukan di berbagai komunitas, misalnya dalam keluarga, di tengah masyarakat, dalam lingkungan pekerjaan, dan dalam kelompok yang lain. Orang yang dianggap sulit bahkan dapat juga berposisi menjadi pimpinan, sehingga disebut pimpinan yang sulit, menurut versi bawahan yang tidak suka, orang sulit juga ada yang berposisi sebagai teman sekerja atau juga sebagai bawahan. Bila dianggap orang sulit dalam lingkungan pekerjaan, maka pimpinan atau instansi bisa memutasikan ditempat lain yang lebih sulit atau yang tidak nyaman sebagai alasan pembenaran untuk konstruksi. Demikian pula bagi pemimpin yang sulit maka atasannya akan memindahkan ditempat lain yang dianggap sulit juga untuk konstruksi. Orang yang dianggap sulit kadang tidak mengerti bila dirinya disebut orang sulit, atau kita sendiri termasuk orang sulit.

Mutasi Bukan Solusi
Keberadaan orang sulit dalam lingkungan kepegawaian mestinya tidak harus disingkirkan atau di pindah ditempat yang tidak nyaman. Tapi harus ada pembinaan dan pendekatan dengan penuh kasih secara interpersonal. Perlu adanya pendekatan empat mata, dan pimpinan yang bijak bisa melakukan kunjungan rumah, sehingga mengetahui latar belakang keluarga secara pasti, yang menjadikan alasan yang membuat dia disebut sebagai orang sulit. Karena setiap personal pasti memiliki potensi, yang bisa digali, sungguhpun seseorang memiliki kekurangan, pasti sekaligus memiliki kelebihan atau potensi yang bisa digali, barangkali karena penempatan pekerjaan yang tidak sesuai sehingga seseorang dikatakan tidak mampu bekerja dan dianggap orang yang sulit. Menilai seseorang yang dianggap orang sulit memang sangat subyektif, dari kaca mata mana melihatnya. Orang yang cenderung sangat disiplin dan sangat jujur, orang lain bisa menyebutnya sebagai orang sulit, karena dianggap terlalu zakelijk. atau dianggap tidak bisa bekerja sama. Yang pasti bila diajak kerja sama yang tidak baik dan tidak jujur, pasti dia tidak mau. Ada sementara orang yang mengatakan bahwa saat ini mencari orang jujur ​​tidaklah mudah, pendapat demikian juga tidak salah namun juga tidak bisa dibenarkan. Karena masih banyak orang yang jujur ​​di negeri ini. Hanya potensi orang yang cenderung jujur ​​dan bekerja dengan benar sering tidak disukai oleh teman sekerja. Bila kondisi ini dimanfaatkan oleh karyawan dan menyampaikan kepada pimpinan, atau ada teman sekerja yang pandai menjilat, maka orang yang jujur ​​cenderung dianggap sebagai orang sulit. 
Memang senyatanya ada orang-orang yang betul-betul sulit karena memang sudah bawaan dari sana, karena itu pentingnya seorang pimpinan untuk memahami tipe-tipe temperamen dan karakter para karyawannya. Pentingnya seorang pimpinan untuk mengetahui latarbelakang karyawan atau bawahannya sangat diharapkan, apapun latarbelakang mereka. Bukan waktunya lagi untuk memperlakukan seseorang secara diskriminatif karena perbedaan latar belakang, baik suku, agama, ras dan aliran budaya, sungguhpun dalam keseharian masih ada perlakuan yang demikian. Kita memang berbeda, karena tidak ada dua orang yang sama, namun kita tidak dapat membeda-bedakan. Cepat atau lambat cara kerja dengan gaya membeda-bedakan pasti secara perlahan akan ditinggalkan. 

Butuh Menyadari Diri
Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya juga memiliki potensi sebagai orang sulit. Perbedaan temperamen dan karakter memang bisa membuat orang akan memiliki kepribadian yang berbeda dengan yang lain, karena tidak ada dua orang di dunia ini yang memiliki sifat-sifat yang sama persis, sungguhpun itu kembar satu telur sekalipun. Manusia memang unik, sehingga perlunya saling menyadari dan mengintrospeksi diri bahwa tiap orang memiliki kekurangan masing-masing. Orang sulit juga memiliki banyak kekurangan dan barangkali tidak pernah menyadari, bahwa orang lain juga memiliki kepentingan. Karena itu sangat diharapkan setiap orang untuk mau banyak belajar, dari pengalaman orang lain maupun belajar secara mandiri. Karakter yang merupakan bawaan sejak lahir, dan adanya karakter yang diperoleh setelah lahir, yaitu karakter yang telah dipengaruhi oleh lingkungan, pendidikan dan pengalaman ternyata mampu diubahkan. Karena karakter atau kepribadian bisa dibentuk dengan adanya pendidikan. Orang-orang yang disebut sulit barangkali memang dalam latar belakang keluarganya sudah dibiasakan dengan perlakuan kekerasan dan biasa hidup bebas oleh orangtuanya, sehingga terbentuk menjadi anak atau orang yang berwatak keras dan cenderung antisosial, tidak mau kompromi, maunya menang sendiri dan tidak bisa menghormati orang lain bahkan dengan gurunya sekalipun. Kata-katanya kasar dan tidak sopan, dan tidak pernah mau mendengarkan bila diberikan nasehat. Anak-anak yang seperti ini nantinya akan menjadi orang yang sulit bila sudah dewasa. 

Peran Pendidikan
Bagaimanapun pendidikan diharapkan mampu mengubah perilaku anak dari sikap dan kebiasaan yang tidak baik menjadi lebih baik. Pendidikan karakter memang sangat mendesak untuk diberlakukan dalam kehidupan di sekolah. Sekolah tempat untuk mendidik mereka sungguhpun waktunya sangat terbatas karena hanya sekitar 5-6 jam perhari. Selebihnya atau sisanya sekitar 18-19 jam perhari ada dalam tanggung jawab orang tua. Sayangnya banyak orang tua yang sangat sibuk di luar rumah untuk mencari nafkah. Karena itu budaya disiplin memang harus dimulai dari keluarga. 

Semoga Bermanfaat
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :