Merayakan Kelulusan Dengan Aksi Corat-Coret

Merayakan Kelulusan Dengan Aksi Corat-Coret

Sumber gambar kuskus.co.id

Saat ini beda dengan masa lalu, sekarang siswa sekolah menengah setingkat SMA dan SMK, hampir semuanya mengendarai sepeda motor, bahkan siswa SMP juga sudah menggunakan sepeda motor untuk kendaraan harian, karena alasan tidak ada angkutan. Bila pagi menjelang siswa masuk sekolah dan siang atau sore saat siswa pulang, jalanan pasti macet di setiap sudut kota tidak terkecuali di kota Purwokerto. Memang perkembangan pengendara sepeda motor mengalami peningkatan yang luar biasa. Di Kabupaten Banyumas, menurut siaran Radar Banyumas, 14 Mei 2016 kendaraan bermotor roda dua setiap bulannya bertambah 3000 unit (baca tiga ribu unit) sepeda motor baru yang beroperasi. Peningkatan yang luar biasa yang tidak sebanding dengan penambahan ruas jalan. Jadi wajarlah bila jalan umum di kota sudah dipenuhi kendaraan roda dua, belum terhitung penambahan kendaraan roda empat yang juga banyak dengan berpenumpang rata-rata hanya 1 orang. 

Mengganggu Pengendara Lain
Pesta kelulusan mereka rayakan sangat istimewa katanya hanya terjadi selama hidup, terjadilah euforia yang luar biasa, dengan aksi corat-coret baju seragam sekolah warna putih, celana dan rok abu-abu, penuh dengan coretan pilox warna warni termasuk rambut juga di semprot cat. Bahkan ada siswa perempuan yang sengaja merobek roknya kaya model artis dan yang ini membuat ketidak nyamanan bagi yang melihatnya. Setelah itu mereka berkonvoi mengendarai motor secara rombongan mengelilingi kota atau menyelusuri jalan-jalan utama dengan tidak mengindahkan peraturan lalu lintas. Mereka banyak yang tidak menggunakan helm pengaman, dan berjalannya dengan suara mesin yang di mainkan dengan suara yang keras (Geber-Geber mesin dalam bahasa Jawa). Yang pasti kedatangan mereka membuat pengendara lain minggir, karena mereka juga tidak mau kalah. Peristiwa ini kadang tidak terpantau pihak kepolisian, sungguhpun akhirnya mereka juga terjebak operasi pihak lalu lintas. Mereka pada lari menyelamatkan diri dengan memasuki gang yang mereka juga tidak hafal jalan. 

Sumber youtube

Tanggung jawab Pihak Sekolah
Pihak sekolah sudah berusaha mengantisipasi dengan cara pengumuman lewat online atau menggunakan surat untuk diambil oleh orang tuanya, namun aksi corat-coret bukan terjadi pada hari pengumuman, tetapi kadang mengambil sehari setelah pengumuman. Sehingga sekolah juga tidak maksimal dalam melakukan pemantauan. Barangkali orang tua yang harus memberikan pemantauan secara khusus. Itupun tidak maksimal karena mereka juga memakai bermacam alasan kegiatan dan yang lainnya.
Bupati Banjarnegara ikut prihatin atas kejadian euforia dalam merayakan kelulusan dengan aksi cora-coret baju seragam dan aksi jalanan. Bahkan Bapak Bupati mengancam akan menahan sementara gelar mereka bila terbukti melakukan konvoi di jalanan. Pemerintah Banjarnegara sudah berkoordinasi dengan Dindikpora setempat dalam hal mengantisipasi aksi konvoi, namun begitu cerdiknya para siswa, sehingga mereka melakukan konvoi sehari setelah menerima informasi kelulusan.

Keprihatinan 
Banyak cerita tentang pesta kelulusan dari sekolah setingkat SMA / SMK ini, ada yang akan melakukan pesta bikini, namun tercium pemerintah akhirnya gagal, selain aksi corat-corat baju dan konvoi tadi. Ada juga yang melakukan pesta yang tidak sedap didengar yaitu pesta sex dalam rangka merayakan kelulusan, dengan menyewa kamar hotel secara part time, dan ketahuan oleh operasi Satpol PP setempat. Pernah terjadi di suatu daerah ada yang melakukan pesta sex di mobil yang parkir di tepi jalan sepi, kebetulan ada yang memperhatikan gerak-gerik mereka dan mengintip, mereka penasaran karena mobil bergoyang. Yang pasti ia anak orang kaya karena menggunakan fasilitas mobil dan punya banyak uang. Mereka melakukan persetubuhan di dalam mobil. Setelah mereka pergi dan dan mendekat, mereka keluar dengan seperti tidak terjadi apa-apa dengan masih menggunakan pakaian yang penuh coretan, kebetulan orang tua si perempuan datang mungkin sudah mengikuti dari jauh, ibu ini mengambik paksa anaknya perempuan, dan kepada yang melihat ibu ini memberikan imbalan Rp 1 juta sebagai uang bungkam. Namun setelah pergi, ditemukan kondom bekas pakai yang sengaja dibuang di dekat mobil. Ini adalah bukti bahwa telah terjadi hubungan badan di antara anak yang merayakan kelulusan. Ini merupakan keprihatinan kita semua baik sebagai orang tua maupun guru. Yang pasti sekolah tidak pernah mengajarkan hal seperti ini.

Lakukan Hal yang Positif
Banyak cara untuk melakukan pesta kelulusan dengan hal-hal yang positif, pasti banyak yang tahu tentang hal positif ini. Banyak yang dapat dilakukan misalnya:

1. Doa bersama dan sujud syukur di sekolah bersama Guru dan Karyawan, sekaligus merupakan perwujudan 
   pendidikan karakter, sehingga Kepada Sekolah, Guru dan Karyawan maupun Komite Sekolah dapat hadir dan 
  dilanjutkan dengan Sambutan dan Jabattangan, merupakan kegiatan yang sangat terpuji. Bisa diperpanjang 
   dengan  potong tumpeng dan makan bersama. Acara ini akan sangat efektif bagi siswa dengan foto-foto bersama.
2. Melakukan aksi sosial dengan memberikan nasi bungkus kepada abang becak atau yang sangat membutuhkan 
   melalui Panti Asuhan atau yang lain, dengan bersumber keuangan secara gotong royong atau sumbangan suka 
   rela sesuai dengan kemampuan siswa atau 
   melalui Panti Asuhan atau yang lain, dengan bersumber keuangan secara gotong royong atau sumbangan suka 
   rela sesuai dengan kemampuan siswa atau barangkali ada donasi dari pihak lain. Sekolah akan merasa bangga 
   bila si swanya melakukan aksi sosial ini dan dapat mengundang Wartawan Lokal atau regional untuk meliput,
   pasti sekolah akan bangga dengan kegiatan ini.
3. Baju yang dipakai seragam dapat di Donasikan kepada yang lain. Masih banyak orang yang membutuhkan belas 
   kasihan, baju yang sudah tidak dipergunakan dan masih layak dipakai pasti ada yang membutuhkan, 
   di banding dengan di corat-corat dengan cat, dan tidak layak dipakai lagi. Negeri ini masih banyak yang tidak 
   mampu  dibanding yang ekonomi kuat. Karena itu pakaian yang sudah tidak digunakan bisa untuk orang lain
    atau dihibahkan ke adik kelas, pasti mereka mengucapkan terima kasih.
4. Bentuk memberikan hormat dengan mencuci kaki secara seremonial kepada Kepala Sekolah, Guru dan
    Karyawan adalah bentuk perwujudan rasa hormat, yang sulit untuk dilupakan. Sederhana namun memberikan
 makna yang sangat mendalam bagi siswa dan sekolah, dan tidak menutup kemungkinan banyak yang meneteskan  air mata. Peristiwa ini merupakan kenangan indah sebelum meninggalkan sekolah.
5. Dan masih banyak cara untuk merayakan kelulusan.

Semoga Bermanfaat!

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :