Sepuluh Sandera Abu Sayyaf Telah Bebas

Sepuluh Sandera Abu Sayyaf Telah Bebas


Sulit dibayangkan oleh nalar sehat bahwa 10 ABK Warga Negara Indonesia yang disandera Kelompok Abu Sayyaf selama hampir 1 bulan telah bebas Minggu siang 1 Mei 2016 dan tanpa tebusan, demikian di informasikan oleh media. Bila benar-benar sandera telah dibebaskan tanpa uang tebusan, inilah sebuah mujizat. Salah satu sandera adalah Bapak Alvian, sehingga istri tercinta ibu Youla Lasut langsung mengucap syukur dan terima kasih pada Tuhan atas dibebaskannya suami tercintanya. Puji Tuhan katanya, sebagai warga Kristiani. Kita yang mendengarkannya juga ikut mengucap syukur pada pemerintah, perusahaan dan berbagai pihak yang telah bernegosiasi dengan kelompok Abu Sayyaf. Ini adalah pekerjaan besar yang menuntut energi. Mereka adalah 10 ABK Kapal Brahma 12 yang menarik kapal tongkang Anand 12 yang membawa muatan batubara sebanyak 7.000 ton. Kelompok Abu Sayyaf menuntut tebusan sejumlah 50 juta peso mata uang Filipina atau setara dengan 1 juta USD. Pemerintah Indonesia bertekat untuk tidak memberikan uang tebusan. Masih ada 4 ABK yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf dari Kapal Tunda yang juga menarik tongkang.

Cemas dan Takut

Kita semua merasa cemas, khawatir dan macam-macam ketakutan yang menghantui keluarga yang disandera. Pengalaman yang sudah terjadi, bila negosiasi tentang uang tebusan tidak ada kesepakatan maka sandera akan dihabisi. 

foto Detik.com
Ibu Youla terkejut dan bersyukur mendengar informasi ini lewat saudaranya di Manado pada pukul 15.30 Waktu Indonesia Barat Minggu sore tanggal 1 Mei 2016. Ia telah ditelepon pihak perusahaan tempat suaminya bekerja, namun telepon tidak sempat diangkat, katanya di kediamannnya di Tanjung Priuk Jakarta Utara tepatnya di jalan Swasembada.
Ibu Youla terus menunggu kabar tentang kepulangan suaminya dengan pesawat dan akan menjemputnya di Bandara Halim. Minggu malam 1 Mei 2016 sepuluh ABK yang dibebaskan akan dipulangkan dengan pesawat terbang milik Bapak Surya Paloh.

Kondisi Sehat

Menurut Informasi yang diberitaka Daily Mail pada Minggu 1 Mei 2016, semua ABK berjumlah 10 orang dalam kondisi sehat, dan mereka sudah dikondisikan untuk dipulangkan ke Indonesia melaui konsulat Indonesia. Diberitakan juga bahwa Pihak Kepolisian Filipina tidak mengetahui adanya tebusan atau tidak. B ila ada sandera dengan pembayaran sejumlah uang maka pihak yang memberikan tebusan berarti sama saja ikut mendukung keberadaan Abu Sayyaf, karena kelompok teroris ini mendapat dukungan dana sehingga bisa membeli amunisi yang akan terus melakukan tindak kriminalitas, katanya. 
Para pengamat mengatakan sangat sulit bila Abu Sayyaf membebaskan sandera tanpa tebusan. Bahkan Filipina sendiri tidak mengetahui ada tebusan atau tidak. Bahkan Filipina juga menanyakan apakah pembebasan ini tidak dibumbui sandera, dengan sejumlah uang. Sulit memang diterima nalar sehat bila betul-betul tanpa tebusan. Karena sumber keuangan kelompok Abu Sayyaf ini memang dari tuntutan tebusan.
Buktinya sandera warga negara Kanada, karena gagal mencapai kesepakatan dalam bernegosiasi tentang sandera dengan sejumlah uang, maka sandera dipenggal kepalanya tanpa ampun. Kasus ini akhirnya membuat Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau berjanji akan membantu Filipina untuk menumpas kelompok Abu Sayyaf dan ingin membebaskan sandera yang lain, demikian diberitakan oleh Merdeka.com.
Informasi yang didapatkan bahwa negosiasi ini dilakukan oleh berbagai pihak dan upaya serta proses pembebasan telah dilakukan oleh Tim Kemanusiaan Surya Paloh yang dimulai sejak 23 Maret 2106 yang lalu. Yayasan Sukma yang didirikan oleh Surya Paloh pada tahun 2005 adalah sebuah jaringan yang melakukan negosiasi secara langsung dengan sejumlah tokoh di Sulu, Filipina yang memiliki akses langsung dengan Abu Sayyaf, semuanya dibawah koordinasi langsung pemerintah Indonesia. 

Demikian informasi terbaru!



Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :