Pendidikan Karakter Dimulai Dari Keluarga

Pendidikan Karakter Dimulai Dari Keluarga

Setiap orang tua pasti menginginkan putra-putrinya memiliki masa depan yang cerah dengan berbagai kesuksesan. Sukses dalam pendidikan dan mendapat pekerjaan dengan posisi yang mapan, hormat pada orang tua, saleh dan berkarakter yang baik. Karena itu orang tua dalam keluarga memiliki tanggung jawab dan peran penting untuk menyiapkan putra-putrinya dewasa dengan penuh tanggung jawab.

Tanggungjawab Orang tua

Harus disadari bahwa anak agar menjadi generasi yang hebat tidak tumbuh dengan sendirinya, mereka membutuhkan lingkungan yang subur untuk tumbuh dewasa yang memungkinkan terbentuknya karakter mereka dapat berkembang dengan baik. Pasti pertumbuhan ini dimulai dari lingkungan keluarga, sejak masa bayi dan anak-anak. Bayi yang tumbuh dalam keluarga sangat membutuhkan sentuhan emosional dari orangtua, dari segenap anggota keluarganya. sentuhan emosional bisa dalam bentuk belaian kasih sayang, sentuhan hangat, dekapan mesra, senandung lagu yang merdu dikala menjelang tidur, seperti masa lalu orang tua kita mendongeng sambil menidurkan anaknya termasuk saya saat itu. anak-anak yang selalu mendapat perlakuan yang demikian akan tumbuh sehat, cerdas dan berkarakter, dan cenderung memiliki perkembangan kejiwaan yang sehat.

Ulangan 6: 7 mengajarkan: haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu. Mendidik itu membiasakan untuk berbuat yang baik sesuai dengan norma agama dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Mengingatkan untuk berbuat baik itu dilakukan secara berulang -ulang, itu merupakan tanggung jawab orangtua kepada anak-anaknya, itu perintah Alkitab. 
Suasana hati yang penuh kasih pada anak usia balita untuk mau menerima keberadaan anak apa adanya, mau menghargai potensi anak, karena setiap anak memiliki potensi yang dapat berkembang. Semua anak memiliki potensi untuk berhasil di sekolah dan dalam hidup, apapun jalur yang mereka pilih. Mereka yang tidak berhasil bukan karena tidak dapat berhasil. Itu karena mereka belum mengetahui dan belum menemukan cara untuk berhasil. 

Waktu pemuda dan remaja adalah masa diantara usia anak-anak dan dewasa, waktu ketidakstabilan emosi, kadang dalam perasaan senang yang meledak-ledak, dan tiba-tiba menangis. Waktu untuk menemukan jati dirinya, di satu sisi untuk bertindak sebagai orang dewasa, di sisi lain kadang masih diperlakukan sebagai anak-anak yang belum dipercaya secara penuh. Karena itu perlunya pembimbingan dari orang tua, agar remaja tidak jatuh dalam emosi yang meluap-luap dengan kompensasi di luar rumah yang tidak terawasi orang tua, seperti merokok, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, sampai pada pornoaksi.

Memahami Anak

Orang tua dan Guru harus memahami bahwa anak sebagai individu yang unik, artinya tidak ada anak yang sama sungguhpun kembar identik sekalipun. Sehingga setiap anak memiliki potensi yang berbeda satu dengan yang lain, namun mereka saling melengkapi. Yang harus dipahami orang tua bahwa:
1. Anak itu bukan orang dewasa kecil.
    Anak tetap anak, bukan orang dewasa yang kecil, karena sebagai anak maka mereka memiliki keterbatasan.
    Karena itu dalam menghadapi anak, orang tua harus sabar, penuh kasih dalam mendidik mereka.
2. Dalam dunia bermain.
    Suasana anak tetap anak, dunia mereka senang bermain dengan penuh kegembiraan. Mereka dengan spontan
    merasa senang bila cocok dengan suasana hati, dan akan menolak bila suasana tidak sesuai dengan isi hatinya.
3. Anak dalam proses perkembangan.
    Mereka sedang bertumbuh menuju kedewasaan baik secara fisik maupun secara kejiwaan. 
   Dalam  pertumbuhan ada masa atau fase perkembangan yang harus dilaluinya, dan anak akan memiliki
    perilaku sesuai dengan masa   perkembangan tersebut.
4.  Anak suka meniru.
     Pada dasarnya anak suka menirukan apa yang dilihatnya, karena pembentukan tingkah lakunya diperoleh 
     dengan meniru. Anak yang gemar membaca, karena lingkungannya tempat ia berada banyak yang gemar 
     membaca. Karena itu orang tua atau atau orang yang ada di sekitar anak
     harus mampu  memberikan contoh perilaku yang baik sesuai dengan norma yang berlaku. Karena itu orang tua 
    dituntut untuk  berperilaku yang baik, serta bertutur kata yang sopan agar anak dapat meniru orangtuanya,
    sehingga orang tua harus mampu memberikan teladan bagi para putranya. Kasus pemerkosaan yang dilakukan 
   usia anak-anak di Surabaya beberapa waktu yang lalu, karena mereka sudah terbiasa melihat lingkungannya
    melakukannya, sebagai dampak dari lingkungan Gang Dolly. 
5. Anak Kreatif.
    Pada dasarnya anak itu kreatif, para ahli menyebutnya karakteristik individu yang kretaif, mereka memiliki rasa
    ingin tahu yang besar, suka bertanya apa saja yang dilihatnya, memiliki imajinasi yang besar. Karena itu orang
    tua dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk berimajinasi, dan mampu menjawab setiap pertanyaan
    anak dengan benar. 

Kesimpulan 

Anak yang unggul dan berkarakter pada dasarnya tidak tumbuh dengan sendirinya, namun mereka membutuhkan lingkungan yang dapat mendukung yang memungkinkan potensi mereka dapat tumbuh secara optimal. Orang tua dan Guru memiliki peran yang penting untuk membimbing, mengarahkan anak agar potensi ini dapat tumbuh dengan baik. Semuanya itu dapat terwujud bila dilaksanakan dengan kesungguhan hati, bukan dengan terpaksa.

Sesuai harapan Presiden untuk mewujudkan revolusi mental, dengan meningkatkan pendidikan karakter, melalui kebijakan dan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan pendidikan kewarganegaraan, pelajaran sejarah perjuangan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta tanah air, semangat bela negara dan pendidikan budi pekerti.

Semoga Bermanfaat!

Kata kunci : pendidikan karakterkarakter
Sumber bacaan Seminar Parenting oleh Kak Seto


Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :