Kenangan Menjadi Guru di Pelosok

Kenangan Menjadi Guru di Pelosok 


Kenangan Menjadi Guru di Pelosok, merupakan kisah nyata yang sengaja ditulis sebagai bahan renungan barangkali bermanfaat, karena peristiwanya terjadi empat puluh tahun yang lalu dan mestinya suasana sekarang sudah jauh berubah.  Menjadi Guru Pegawai Negeri Sipil merupakan mimpi kebanyakan lulusan Sekolah Guru sampai saat itu. Masyarakat umumnya menganggap bahwa menjadi PNS itu sebuah pilihan yang sangat diharapkan. Beruntung saat itu pemerintah orde baru mengangkat derajat Guru dengan sangat luar biasa, peningkatan kesejahteraan Guru sangat diperhatikan, karena selama itu memang gaji Guru tidak layak sehingga banyak guru yang nyambi ngojek hanya untuk memenuhi kebutuhan harian. Sehingga banyak pemuda kita yang tidak tertarik menjadi Guru.

Guru Inpres

Pemerintah orde baru dibawah Presiden Soeharto, dengan program Repelita jangka pendek sampai jangka panjang, telah memrogramkan perbaikan dan pembaharuan diberbagai sektor termasuk pendidikan. Sehingga pemerintah mengangkat Guru secara massal, artinya sekali mengangkat jumlahnya sampai belasan ribu Guru, saat itu disebut Guru Inpres artinya diangkat secara massal melalui Instruksi Presiden, seangkatan Guru Inpres 2 Tahun 1977 saat itu jumlahnya sampai 16-17 ribu Guru sekali mengangkat menjadi Guru Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Seingat saya para Guru ditempatkan menyebar seluruh Jawa Tengah karena saya ada di Jawa Tengah. Lulusan Sekolah Pendidikan Guru yang kuotanya lebih ada di daerah  Yogyakarta dan sekitarnya. Karena saat itu di wilayah ini memiliki Sekolah Pendidikan Guru yang jumlahnya lumayan banyak. Karena lulusannya tidak seluruhnya terserap di daerah sendiri, sehingga di kirim menyebar keluar kabupaten yang membutuhkan. 

Ditugaskan di Pelosok

Perasaan gembira saat mendapat berita bahwa lulus menjadi Guru Calon Pegawai Negeri Sipil, sehingga pada saatnya harus mengenalkan diri ke sekolah yang tertulis dalam Surat Tugas, melalui Kantor Dinas Pendidikan Ranting Kecamatan saat itu. Ternyata yang mendapat tugas sebagai Guru Inpres tidak sendirian, sehingga pada saat tunjuk muka dapat bertemu dengan teman yang lain termasuk dengan Kepala Sekolahnya. Pada hari yang ditentukan secara bersama-sama berangkat menuju Sekolah tempat tugas baru, lokasinya ada di pelosok pegunungan, dan tidak ada kendaraan yang bisa sampai lokasi. Satu-satunya cara hanya berjalan kaki, langkah demi langkah dilalui dan ternyata waktu perjalanan sudah menunjukkan 3 jam perjalanan, dan belum sampai di lokasi. Berangkat dari rumah Kepala Sekolah jam 05.00 pagi, karena harus menginap supaya bisa berangkat bersama berjalan kaki. Tak terbayangkan bahwa sepanjang perjalanan tidak ada penjual air minum kemasan, karena waktu itu minuman kemasan belum di produksi. Bila dahaga bisa dengan cuci tangan dan kaki di pancuran sambil menenggak air pancuran.



Belum Memiliki Sekolah

Beberapa teman Guru Inpres ditempatkan dalam satu sekolah, ada kesepakatan yang tidak tertulis bahwa Guru laki-laki ditempatkan di pelosok desa dan pegunungan, sedangkan Guru perempuan di tempatkan di daerah dataran rendah yang dapat dijangkau kendaraan. Sepeda motor saat itu merupakan kendaraan utama yang harganya mahal, sehingga tidak semua Guru mampu membelinya. 
Hari berganti hari yang akhirnya ada tawaran bahwa di desa sebelah yang jaraknya 2 jam perjalanan, membutuhkan Guru Inpres. Karena tidak ada satupun yang bersedia maka harus  siap ditempatkan di sana tetapi bukan untuk selamanya, sungguhpun Surat Tugas tidak menyebutnya di desa itu. Akhirnya pada hari yang sudah ditentukan diantar ke salah satu desa yang berjarak sekitar 2 jam perjalanan, melewati hutan dengan kondisi jalan  setapak berbatu naik turun jurang yang mengasyikkan dan melelahkan. Desa yang dituju terlihat dengan jelas di depan mata, namun setelah dituju dengan berjalan kaki membutuhkan waktu lama. Desa tersebut belum ada sekolah, keterangan dari Kepala Desa bahwa pernah berdiri kelompok belajar yang nantinya menjadi Sekolah Dasar namun Guru yang ada tidak betah sehingga meninggalkan desa dan siswa diterlantarkan. Karena itu pada saat aku datang disambut warga desa dengan suka cita dan terpancar di wajahnya yang penuh harapan, sungguhpun mereka belum percaya, dan khawatir bahwa Guru akan meninggalkan mereka lagi.

Diharapkan Warga

Informasi dari warga desa mengatakan tentang siswa diterlantarkan karena Guru tidak kerasan, membuat  janji dalam hati untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan Sekolah Dasar yang tidak pernah ada, akan ada karena aku ada di sana. Hari yang ditentukan siswa datang berkumpul di balai desa untuk sekolah, betapa terkejutnya karena ternyata jumlahnya cukup banyak mencapai 71 ( baca tujuh puluh satu ) anak, dan yang paling tua usianya sudah 17 tahun, ukuran yang tidak wajar untuk siswa kelas 1 baru. Mereka tidak memakai alas kaki, pakaiannya beragam pada saat datang pertama kali, dan bangunan ruang kelas belum ada. Ruang pendidikan ada di salah satu gudang dekat balai desa yang tidak memiliki pintu. Ada beberapa meja dan bangku siswa yang dibuat oleh orang tua murid, sehingga sekolah dapat berjalan dalam kondisi darurat. Belum ada buku sekolah, papan tulis dan almari buku, serta alat tulis. Pembelajaran dilakukan dengan metode ceramah dan diisi dengan menyanyi dan motivasi.

ilustrasi
Mengajar Sendirian 

Keputusan untuk bersedia mengajar di desa itu membawa resiko menjadikan  sebagai Guru tunggal yang merangkap Penjaga Sekolah, Guru dan Kepala Sekolah. Belum memiliki fasilitas yang dibutuhkan lazimnya sebagai sekolah pada umumnya. Pembelajaran berjalan dengan ceramah setiap hari dan memperkenalkan huruf dalam papan tulis seadanya dengan bantuan kapur tulis Sekolah tetangga. Olah raga diisi dengan berjalan tanpa alas kaki menyusuri desa, yang menjadi tontonan warga sepanjang  jalan yang di lalui. Memang desa menjadi heboh dengan adanya Sekolah Baru yang belum memiliki nama. Aku bangga dengan semangat warga yang begitu hebat untuk segera memiliki bangunan permanen, sehingga hampir setiap hari warga desa  hadir di balai desa untuk berbincang dengan Guru Baru.  Memang saya mengalami banyak perubahan untuk tinggal di pelosok karena tugas menjadi Guru, antara lain makanan pokok  bukan nasi, namun dari bahan ketela pohon yang diolah seperti nasi, sayuran yang ada berasal dari hutan seperti, daun singkong, daun melinjo, dan tanaman hasil hutan, jamur hutan dan hasil perburuan di hutan seperti burung, ikan hasil tangkapan warga yang dikirimkan khusus untuk Guru Baru. Tidak ada toilet dan kamar mandi, sehingga harus mengikuti kebiasaan warga untuk mandi di pancuran dari bambu, bersama warga atau nunggu untuk bergantian.

Penghargaan Pemerintah

Sejak adanya sekolah baru yang tak bernama, maka kegiatan pemuda dan masyarakat meningkat cukup signifikan. Kami bersama perangkat desa menggerakkan pemuda desa, yang rata-rata sudah menikah dalam usia muda. Kegiatan demi kegiatan terus bergulir yang saling membantu peningkatan sumber daya manusia desa. Sehingga desa mendapat penghargaan berupa satu mesin jahit merk Butterfly. Mereka tidak dapat mengoperasikannya, beruntung saya sebagai Guru baru sudah terbiasa menggunakan mesin jahit, mereka saya latih bergantian,  yang sudah pintar melatih teman yang lain yang akhirnya semua dapat mengoperasikan mesin jahit, sungguhpun bila membeli benang jahit harus berjalan kurang lebih 2-3 jam ke kota. Masyarakat juga boleh bersyukur karena pemerintah desa berlangganan harian Berita Yudha, yang diambil seminggu sekali bahkan sampai 1 atau 2 mingggu. Mengambilnya di kantor kecamatan, koran ini sebagai hiburan dan sekaligus bacaan, karena saya bertempat tinggal di rumah Kepala Desa saat itu. Dalam tahun ketiga pemerintah desa mendapat penghargaan pemerintah karena dalam pemilihan umum tahun 1977 mendapat suara terbanyak dengan meraih 100 % untuk golongan tertentu, sehingga Departeman Penerangan saat itu memberikan hadiah berupa televisi hitam putih 17 inci dengan mesin generator Yamaha EF 1400 untuk penerangan komplek kepala desa dan untuk menghidupkan televisi. Sayangnya bahan bakarnya bensin murni sehingga memberatkan juga bagi pemerintah desa, karena membelinya cukup jauh dengan berjalan kaki sekitar 2-3 jam perjalanan.

Guru Baru dan Gedung Baru

Dengan prestasi gemilang melalui Pemilu meraih angka 100% untuk partai pemerintah, maka  ada hadiah berupa Gedung Baru dan Perumahan Guru, tambahan  guru baru  dari sekolah terdekat dan Kepala Sekolah, sehingga tenaga pengajar cukup mantap selain hadirnya Kepala Sekolah sebagai penangung jawab. Semangat warga yang luar biasa dibawah komando Kepala Desa layak untuk mendapat apresiasi pemerintah. Keputusan pemerintah memberikan hadiah Gedung Sekolah Baru sungguh tepat dikala mereka sangat haus pendidikan. Sehingga dalam keputusan desa, untuk menyediakan lokasi tanah untuk sekolah langsung mendapat respon masyarakat dengan suara bulat. Desa menyediakan lahan tanah dan batu kali untuk fondasi gedung langsung dapat diwujudkan. Material bangunan dikirim lewat pemborong bangunan namun tidak sampai lokasi bangunan, karena jalan hanya untuk pejalan kaki bukan kendaraan bermotor. Sehingga warga desa bergotong royong mengangkut batu-bata, genteng, semen dengan berjalan kaki, setiap hari baik bapak, ibu, pemuda remaja dan anak-anak ikut bekerja bakti sampai selesainya bangunan. Material kayu didapatkan dari lokasi bangunan, sehingga menjadi lancar. Selesainya bangunan dengan hadirnya Guru baru dan Kepala Sekolah baru menjadikan desa menjadi banyak perubahan, yang selama ini sepi tidak ada kegiatan pendidikan.

Sekitar setahun hadirnya Guru baru, ternyata mereka ada yang dimutasi mendekat rumah, padahal saya yang sudah ada sejak awal tidak pernah dipikirkan untuk mutasi. Zaman dulu sudah ada yang namanya KKN karena dia putra pejabat, sehingga dalam waktu singkat bisa di mutasi ketempat yang lebih nyaman. Peristiwa ini menjadikan iri bagi Guru lain yang lebih lama namun tidak mendapat mutasi. Kondisi ini yang manjadikan sekolah kurang kondusif, sungguhpun itu tidak boleh terjadi, namun kita ini masih manusia yang tidak bisa melepaskan kemanusiannya.

Sumber Inspirasi

Empat tahun saya manjadi Guru di Pelosok, adalah sebuah pengalaman, sayangnya saya tidak memiliki data foto karena saat itu saya tidak memiliki kamera untuk merekam data. Di sela-sela kesendirian dengan menikmati sepinya daerah pelosok, kadang terdengar gemericik air pancuran dan bunyi burung yang dapat menjadi hiburan bagi saya. Sembari membaca koran Berita Yudha langganan pemerintah desa, itulah yang menemaniku setiap saat. Aku bersyukur saat itu saya menuliskan Pengalaman Menjadi Guru di Pelosok yang saya kirimkan di harian nasional di Jakarta dan di muat  untuk konsumsi nasional. Aku berbangga tulisan itu bertengger di sana, dan ternyata saya juga menuliskan di buletin regional setingkat Provinsi juga bisa ditertbitkan. Aku semakin yakin bahwa saya mampu membuat artikel sungguhpun aku ada di pelosok. Pengalaman adalah guru yang baik, agar pengalaman itu dapat dinikmati orang lain, sebaiknya pengalaman itu di tulis sehingga dapat dibaca orang lain. Artikel ini saya tulis agar dapat di baca oleh Para Guru dan siapa saja yang menemukan artikel ini agar dapat menjadi inspirasi mereka. Karena itu sebaiknya Guru Membiasakan Menulis Aktifitas Pendidikan sehingga pengalamannya dapat menjadi inspirasi bagi orang lain. 

Selamat Tinggal

Pada saatnya saya harus pindah meninggalkan desa tempat aku mengajar di Pelosok, karena aku harus pindah untuk berkumpul dengan keluarga.  Saya pindah ke kabupaten lain karena keluarga saya ada di sana. Pada saat aku minta pamit, banyak ibu dan anak-anak menangis tidak mau ditinggalkan, maunya saya ada di desa terus, tetapi itu tidak mungkin. Dalam kegalauan warga menangis aku sembunyi dan keluar untuk pergi berjalan kaki untuk meninggalkan desa itu. Tidak ada istilah perpisahan dan pemberian kenang-kenangan karena itu tidak mungkin. Bukan ucapan selamat jalan, tapi aku berucap selamat tinggal kepada warga desa. 

Selamat Tinggal ! Tuhan memberkati !


Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :