Generasi Muda Menolak Kekerasan Berbasis Agama

Generasi Muda Menolak Kekerasan Berbasis Agama
Harian Kompas Jumat16 Desember 2016 menulis tentang Radikalisme yang bersumber dari  hasil survey Internasional NGO Forum on Indonesian Development ( INFID ) dan Jaringan Gusdurian Indonesia. Disebutkan bahwa sebagian besar generasi muda tidak setuju terhadap tindakan radikal dan kekerasan mengatasnamakan agama. Mayoritas kaum muda Indonesia memandang bahwa Pancasila terbukti dapat menyatukan semua komponen bangsa.
Survey dilakukan antara bulan September – November 2016 dengan mewawancara langsung kepada 1.200 responden yang berusia  antara 15 sampai 30 tahun. Disebutkan bahwa survey ini dilaksanakan di enam kota besar yaitu Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Pontianak dan Makasar. Dengan menggunakan metode proportionale stratified random sampling dengan tingkat kepercayaan 95 %. Demikian hasil survey yang disampaikan oleh Manager Advokasi INVID Beka Ulung Hapsara dalam diskusi publik tentang Sosialisasi Hasil Survey Persepsi Orang Muda dan Pemetaan Internet Media Sosial tentang Radikalisme dan Ekstremisme di Indonesia, di Solo Jawa Tengah.

Hasil survey  pada aspek radikalisme dan kekerasan berbasis agama menunjukkan angka 88,2 persen responden menyatakan tidak setuju terhadap kelompok agama yang menggunakan kekerasan, sedangkan yang setuju hanya 3,8 persen dan sisanya 8 persen tidak menjawab atau tidak tahu. Pada aspek nasionalisme dan kebangsaan sebanyak 60,0 persen responden menyatakan setuju dan 31.3 persen menyatakan sangat setuju bila Indonesia menjadi bangsa besar karena mampu menaungi semua aspek masyarakat, baik ras, suku, maupun agama yang berbeda-beda.Selain itu 63,1 persen responden menyatakan setuju dan 28,1 menyatakan sangat setuju bahwa Pancasila menyatukan semua komponen bangsa untuk bersatu dan menjaga keutuhan bangsa,  tanpa Pancasila mungkin Indonesia sudah terpecah-belah.

Bantu aku mengerjakan survey, klik di sini 

Indonesia masih bisa optimistis dengan sikap generasi muda karena mayoritas anak muda Indonesia tidak menyukasi tindakan radikal dan ekstrem berbasis agama, sungguhpun ada kecenderungan penurunan toleransi  di kalangan anak muda, demikian disampaikan Beka. Aktivis Jaringan Gusdurian, Bapak Heru Prasetyo juga menyampaikan bahwa Jaringan Gusdurian melakukan pemetaan di internet dan media sosial untuk melihat pesan-pesan ekstremisme yang disebarkan oleh kelompok radikal. Ditemukan ada 8.049 kicauan pada periode satu bulan, itu yang secara jelas mengandung pesan ekstremisme, memberikan ujaran kebencian, menawarkan solusi ekstrem dan lainnya. Dalam fecebook ditemukan 170 posting yang memuat pesan ekstremisme, kata Pak Heru Prasetyo.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Solo KH Muhammad Dian Nafi, mengatakan bahwa generasi muda semakin individualistis. Karena itu hidup bermasyarakat dan membangun persahabatan harus dibangkitkan kembali di kalangan generasi muda.

Ilustrasi sumber KataKita.com

Dalam Kuliah Umum Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme ( BNPT ) Repubik Indonesia Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., di Unpad Bandung yang disiarkan unpaj.ac.id, mengajak para mahasiswa agar mewaspadai berbagai dimensi yang bisa memecah belah persatuan bangsa. Dimensi tersebut merupakan berkembangnya globalisasi dan pembangunan bangsa.

Disampaikan bahwa  pembangunan bangsa akan melahirkan turbolensi yang bisa menghasilkan dua nilai, yaitu baik dan buruk, yang buruk akan menggerus nasionalisme. Semangat Sumpah Pemuda yang menyatukan seluruh keberagaman saat ini telah tercabik, semangat toleransi dikatakan hampir menghilang dengan bukti banyaknya kasus-kasus intoleransi di Indonesia. Fenomena radikalisme di Indonesia saat ini menjadi ancaman yang sangat serius bagi kebhinekaan NKRI di masa yang akan datang.

Dengan perkembangan internet di Indonesia maka paham radikalisme yang diposting melalui media sosial dengan mudah diakses oleh semua kalangan termasuk generasi muda kita. Karena itu perlunya perhatian bagi para orangtua, pendidik dan semua pihak untuk mengawasi para putranya dalam menggunakan internet.

Sumber : Kompas 15 Desember 2016, unpad.ac.id.


Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :