Pola Pengasuhan Orang tua

Pola Pengasuhan Orang tua
 

Anak merupakan  anugerah Tuhan bagi keluarga, mereka memiliki bakat dan potensi yang serta karakter yang unik, karena tidak ada dua anak bahkan kembar sekalipun memiliki bakat dan karakter yang sama.  Setiap orang tua pasti mengharapkan anaknya sukses dan berprestasi dalam pendidikan maupun pengembangan bakatnya. Sehingga orang tua terkadang memaksakan diri agar anaknya mau mengikuti berbagai les agar dapat menunjang keberhasilan dalam pendidikan, baik yang bersifat akademik, bakat maupun ketrampilan. Anak tetaplah anak bukan manusia kecil, sehingga mereka memiliki kemampuan yang sangat terbatas sesuai dengan masa perkembangan anak. Mereka memiliki dunianya yang tidak akan terulang lagi bila sudah dewasa. Karena itu berilah keempatan anak-anak untuk menikmati dunia dengan baik, sehingga boleh bertumbuh secara alami sesuai dengan perkembangan jiwanya. Anak tidak bisa dipaksakan sesuai harapan orang tuanya, karena mereka bukanlah orang tua.

Pola Dasar Pengasuhan

Menurut Adam Khoo, ia adalah seorang milyarder atas usahanya saat dia berusia 26 tahun, karena usaha bisnisnya ia memiliki pendapatan bersih $20 juta pertahun.  Ia bersama Gary Lee menulis buku berjudul Nurturing the Winner & Genius ini Your Child dalam terjemahan Bahasa Indonesia “ Membentuk Anak Menjadi Seorang Pemenang dan Genius “. Ia membedakan Pola Dasar Gaya Pengasuhan Orang tua menjadi 4 yaitu :

1.  Bapak dan Ibu Negatif

Orang tua memandang anaknya secara negatif, orangtua sering menyalahkan bahkan memukulnya. Bila prestasinya kurang baik,  orangtua sering membandingkan dengan saudaranya atau temannya. Anak menjadi tidak konsentrasi dalam belajarnya karena orangtuanya sering memberikan label negatif kepadanya. Sehingga anak tidak betah di rumah dan cenderung sering  keluar sebagai bentuk kompensasi, karena ia lebih nyaman bersama kelompoknya di luar rumah.

2.  Bapak dan Ibu Sempurna

Anaknya yang berprestasi dalam study, menjadikan kebanggaan bagi orangtua. Bahkan orang tua ikut mengatur kemauan pendidikan anaknya, padahal anaknya sudah memiliki keinginan sesuai dengan harapan dirinya. Tapi anak tidak mau menyampaikan kepada orangtuanya karena takut mereka kecewa. Orang tua begitu banyak menginvestasikan dananya demi keberhasilan anaknya. Orangtua sering menceritakan keberhasilan anaknya di depan temannya atau orang lain.  Anak dipaksakan untuk selalu membaca, belajar dan tidak boleh bergaul dengan temannya, takut terpengaruh teman yang tidak baik. Ia terkucilkan dari teman-temannya, sehingga kadang anak merasa benci pada orangtuanya. Karena anak tidak pernah berkomunikasi dengan teman, sehingga tidak tahu cara berkomunikasi dengan teman seusianya.

3.  Bapak dan Ibu Lembut Hati

Orangtua sangat memanjakan anaknya, anak selalu dicukupi semua kebutuhannya. Permintaan anak selalu dicukupinya, dan orang tua cenderung menutupi segala kekurangan anaknya karena mereka sangat mencintainya. Anak cenderung tidak pernah membantu pekerjaan orang tua. Anak diberikan kebebasan, termasuk bila tidak masuk sekolahpun orangtua menutupinya, dengan alasan tidak enak badan. Sehingga reputasi di sekolah memburuk, sebagai kompensasi ia sering mengisap rokok secara sembunyi-sembunyi. Ia memiliki banyak teman di luar rumah dan pulang sampai larut malam, danmenjadi anak yang tidak terkendali.

4.  Bapak dan Ibu Materialistis

Orang tua yang satu ini sukses di bidang materi, keduanya bekerja penuh waktu hingga larut malam, kehidupannya sangat mapan dan dihormati sekelilingnya. Keluarga diurus oleh orang kepercayaan  yang di gaji, sehingga kedua anaknya lebih dekat dengan Pembantu dibanding kepada orangtua. Keluarga jarang kumpul bersama anak-anak, bila rekreasi bareng orang tua asyik dengan hobi masing-masing. Sesuai dengan berjalannya waktu, saat anak-anak menjelang remaja, mereka sudah bisa menentukan jalan hidupnya sendiri, dengan berkumpul bersama komunitasnya di luar rumah, karena orang tua sibuk sendiri. Kebutuhan selalu dicukupi, karena orang tua beranggapan bahwa uang dapat untuk membeli pendidikan terbaik, karena merekapun tidak mempedulikan nilai anak-anak. Karena kesibukan masing-masing, sehingga Bapak Ibu Materialistis memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya dalam bentuk pakaian bermerk, gadget terbaru atau yang lain dan uang saku yang lebih. Orangtua tidak pernah mengontrol para putranya pada jam malam. Teman-temannya menganggap dia sangat diperhatikan oleh orangtua dengan uang yang berlebih. Apakah ia merasa bahagia ? Tidak juga, karena orang tuanya jarang memberikan kasih sayang berupa komunikasi lewat telepon, ia merasakan kesepian.

Barangkali ini adalah contoh pengasuhan sebagai orang tua yang dapat terjadi di masyarakat. Sungguhpun banyak yang mengkombinasikan pola pengasuhan satu dengan lainnya. Barangkali sebagai orangtua bertanya-tanya dalam dirinya, apakah saya sudah melakukan yang terbaik bagi anak-anak saya. Pasti semua orang tua mengharapkan pola pengasuhan yang terbaik bagi putra-putrinya, namun terkadang maksud yang baik dari orangtua, bisa ditafsirkan secara negatif oleh remaja mereka.

Suasana Bermain

Masa kanak-kanak adalah masa untuk bermain bersama teman-temannya, untuk tidak dirampas hanya untuk mengejar ambisi orang tua. Orang tua juga tidak salah bila punya harapan agar putranya berprestasi.  Setiap orang tua pasti mengharapkan anaknya sukses dalam pendidikan dan yang lain.   Sehingga dengan berbagai cara diusahakan untuk mengikuti les diberbagai kesempatan. Kemampuan anak itu terbatas dan anak tetap anak yang membutuhkan waktu untuk bermain bersama teman-temannya. Oleh karena itu sangat bijaksana bila orang tua dapat memahami kebutuhan anak dan tidak mamaksakan ambisi orang tua sehingga harus mengikuti banyak les yang melelahkan.

Semoga Bermanfaat !

Silakan klik baner dibawah ini untuk mendapatkan dollar gratis !






 

 

 



Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :